Artikel Terkait Cerpen ,
Cerpen Tiyo Ardianto
Saya sudah cukup dewasa. Banyak sekali
pengalaman masa lalu yang sering saya sesali. Tapi, tak pernah saya meratapi
hal itu. Hilang harapan karena itu. Ingin bunuh diri karena itu. Rasa sesal itu
tak pernah saya wujudkan sebagai kehancuran. Ia malah selalu menjadi bahan
tertawa paling maknyus.
Setiap mengingatnya saya merasa terlahir
kembali. Beruntung sekali menjadi bagian dari zaman yang sederhana. Tidak ada
ponsel. Tidak punya televisi. Tidak ada manusia buru-buru. Semua nyaris melaju
dengan damai.
Tidak ada pertengkaran yang sungguh. Di
desa saya, pertengkaran hanya diperuntukkan untuk dua hal. Pertama, menghibur
diri – karena nyatanya penduduk desa selalu kelabakan mencari topik
perselisihan. Maka kemudian muncul, adu Rumput Kembang atau agak ekstrim ya,
Sabung Ayam.
Lalu yang kedua, pertengkaran untuk
pembelaan. Kita tahu, kalau pendidikan adu
jotos lebih sering dikenalkan sebagai bela diri – semoga tidak ada nilai
egoisme di istilah itu – Lha kan
disebut bela ‘diri’, apa salah jika ada orang usul agar istilahnya diganti.
Misal, Bela Baik atau Bela Benar; apapun saja – minimal bukan Bela yang Bayar.
Saya kedarung
ingat seorang Sahabat yang tandang pemberani. Ia senang mendongeng. Terngiang-ngiang
selalu, saat Ia bercerita dan berlagak seperti Sultan Agung yang memberi
semangat pasukannya sebelum menyerbu Batavia. Tangan kiri seolah memegang
kendali kuda. Tangan kanan mengepal ke atas sambil mengacungkan keris – yang
oleh Sahabat saya diperagakan dengan ranting. “Mukti utawa mati!”. Kalimat sangar,
ekspresi dari pertengkaran-perang untuk pembelaan berhasil membuat saya dan
teman-teman desa terperangah.
Sahabat saya yang satu itu memang amat
mengesankan. Bisa dibilang, Ia bagian dari masa lalu yang menjadi bahan
penghayatan kehidupan saya. Meski dewasa ini, Ia amat sibuk – mobat mabet ke seantero negeri, Ia tidak
pernah lupa dengan desa. Ia sangat tersohor. Di dunia gaib dan di dunia wadak.
Banyak manusia rahasia yang mengenal dan dikenalnya. Itu terlihat dari
wawasannya yang luas. Isyarat keilmuan yang sering ia munculkan di mana-mana.
Ia dikenal sebagai Budayawan, Seniman, Sastrawan, Tokoh Intelektual, Tokoh
Kebangsaan, dan banyak sebutan lain. Tapi, Ia tak pernah lupa dengan saya dan
semua kawan sepermainan. Bahkan kawan yang pernah Ia gebuki. “Hukuman karena durhaka dengan ibunya sendiri,” katanya
waktu itu.
Dulu ia termasuk anak yang senang nerocos. Omongannya ngalor-ngidul. Kadang kami tak mengerti apa yang Ia maksud. Sering
kami timpali dengan bahan candaan yang kering, padahal Ia sedang serius sekali.
Sangat tepat kalau sekarang, Ia keliling ke mana-mana. Dibanding hanya
berbicara kepada kami yang pasti tak mengerti, lebih baik mencari orang untuk
dimengertikan. Kami sudah cukup kuno untuk berpikir hal yang rumit. Biar dia
saja yang mewakili kami semua.
Soal lupa dan tidaknya Ia dengan desa, itu
terbukti dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Anehnya selalu tepat sasaran. Ia
pernah datang persis saat desa diancam oleh seorang konglomerat – yang
berencana membeli semua sawah yang ada, lalu membangun tempat mewah, entah apa
namanya. Yang jelas, ketika konglomerat tahu bahwa Sahabat saya itu asli lahir
dan menikmati masa kecilnya di desa ini – konglomerat yang dulu amat sombong
dan menakutkan, berubah menjadi seorang yang dermawan dan murah senyum. Konglomerat
itu sering sekali memberi hadiah kepada desa. Tak heran, sekarang desa kami
lumayan bagus jalannya, kuat jembatannya, dan sangat memadai lampu yang
meneranginya. Kami bersyukur sekali.
Sebelum itu, pernah juga Sahabat saya
datang ketika jembatan kami hampir roboh. Hujan deras disertai angin membuat
jembatan yang berasal dari bambu dan kayu seadanya itu terlihat semakin tua.
Bahkan sangat mengerikan jika dilalui. Pemerintah desa bingung tak karuan
memperbaikinya. Konon, karena pemerintah pusat tahu bahwa Sahabat saya berasal
dari desa ini – pencairan dana desa menjadi dipersulit. Saya tidak terlalu
mengerti, mengapa Pemerintah Pusat seperti punya sentimen sendiri kepada
sahabat saya itu. Ini teror bagi pikiran saya yang buntu.
Sore itu, Ia datang langsung membawa bahan
bangunan dari kota, plus satu mobil
bak terbuka yang berisi pekerja. Ia akan merenovasi jembatan desa. Semua warga
semakin mencintainya. Mungkin, sampai melebihi cintanya kepada kepala desa yang
setiap periode berganti. Tak ada yang mampu menggantikan Sahabat saya itu.
Sebenarnya agak unik. Sebab, kami hampir
tidak pernah berkomunikasi kecuali ketika bertemu. Kami memang pernah meminta
alamat atau nomor ponselnya. Tapi, Ia tak mau. “Saya tak mau merendahkan
kampung dan warga di sini dengan memaksa njenengan
datang ke tempat saya. Wong tempat
saya itu desa ini, kok!” katanya.
Kami heran, terharu tapi agak kesal. Sudah
sedari dulu dia menampakkan keanehan. Perilakunya tidak seperti orang biasa.
Heran juga, mengapa kami masih menerima dan begitu mencintainya. Kami hanya
mampu terkagum saat melihatnya. Ibarat masakan, ia seperti dimasak oleh seorang
koki dengan percobaan yang tak disengaja dan berakhir tanpa resep yang dicatat.
Susah sekali kami menemukan orang seperti dia. Kami termasuk yang hemat memakan
masakan yang kami tahu ‘limited edisyen’
itu.
Seperti dulu pernah suatu saat ada
tanggapan Dangdut di desa seberang – kami dan teman lain coba ikut nonton. Saat
itu, kira-kira kami berusia 7 tahun. Seperti sudah menjadi kebiasaan di acara
semacam itu. Para pemabuk berpesta, seorang pemuda menantang pemuda lain adu
jotos, dan di panggung perempuan menyanyi dan bergoyang. Untuk ukuran anak-anak
seperti kami, ini memang bukan tontonan ideal. Tapi, sesekali tak apalah.
Di sana ada beberapa kejanggalan yang
muncul. Semua tentang Sahabat saya itu. Ketika musik dihentikan karena ada
kericuhan di bawah panggung, kami sebagai bocah langsung mencari tempat
sembunyi. Ternyata Sahabat saya tidak ikut bersembunyi. Kami bingung
bertanya-tanya. Dari kejauhan kami sadar bahwa Ia berada dekat dengan kericuhan
itu. Rasanya, kami ingin menariknya dan mengajaknya pulang. Tapi tatapannya
malah amat polos seperti meremehkan. Ia tak takut meski sendiri sebagai bocah
di antara kerumunan orang yang bergejolak.
Sampai kami perhatikan betul-betul apa yang
terjadi, kericuhan itu berujung pada seorang pemuda yang mau melempar batu
kepada lawannya. Dari jauh seperti berkata akan memecahkan kepala lawan. Kami
ngeri ketakutan. Sahabat saya tetap tak merubah ekspresi mbelingnya. Malah saat itu, kami benar-benar melihat ada seorang
lelaki yang menggaet tangan sahabat saya itu. Lalu pergi dan menghilang.
Sejenak sahabat saya kaget setelah itu mengangguk – seolah paham dengan apa
yang barusan terjadi. Hanya Ia, kami tetap tak paham-paham.
Lalu ketika kami hendak pulang. Kami dapati
para pemabuk berpesta. Dari raut muka dan nada tertawanya, kami yakin usianya
bervariasi. Mungkin mulai dua puluh sampai enam puluh tahun. Edan tenan
sahabat saya itu. Ia malah mendekat. Ia meneriaki para pemabuk itu. Kurang
lebih, sambil melet dan jempol
mengarah ke bawah, Ia berkata, “Heh! Allah tidak senang dengan orang yang
mabuk, cemen!”
Itu kan langsung membuat kami pengen lari
dan pulang. Orang-orang mabuk malah diteriaki begitu. Bukannya seperti
membangunkan macan tidur? Ini teror bagi saya yang buntu mengira. Kami sangat
heran dengan sikapnya. Sangat jauh dari bapaknya yang kami potret. Sebab
perawakan bapaknya amat garang. Di lengan, kaki, dada, dan punggung – kami tahu
– dipenuhi tato. Syukur sejak kelahiran sahabat saya itu, bapaknya berhenti
menjadi seorang pemabuk.
Kami pernah mendapat cerita dari bapaknya.
Ketika melihat wajah anak pertamanya itu, kerak di hatinya seperti mencair
menjadi susu. Mungkin, anak pertamanya itu dijadikan Tuhan perantara rahmat dan
hidayah. Perlahan, bapaknya – seorang yang dianggap preman mengurangi noda
hidupnya. Pandangan masyarakat umum tentang bapaknya berubah. Tekad yang kuat
tidak akan mampu dikompromikan. Bapaknya berubah luar dalam.
Sahabat saya itu entah bagaimana tidak
hanya membuat heran kami. Tapi juga warga se-desa. Kenapa bisa seorang anak
dari lelaki yang dianggap preman bisa amat santun. Selalu tersenyum dan
cenderung membahagiakan. Ia juga punya kharisma yang tinggi. Di sekolah Ia amat
diandalkan. Setiap ada lomba atau acara, pasti Ia yang muncul. Bukan sekolah
hanya menyayanginya. Tapi memang Ia yang berbakat di bidang itu. Katakanlah,
lomba membaca puisi, ceramah, dan semua yang berhubungan nyocot. Dia memang pintar.
Ada cerita menarik ketika kami kelas lima.
Sahabat saya itu berhasil menjuarai lomba ceramah se-Kabupaten. Bahkan sempat
dikirim ke Kendal untuk mewakili kontingen. Kabar ini kesuwur di semua sudut desa. Orang-orang heran. Kenapa dari seorang
yang terkenal preman lahir anak yang mampu berceramah dan ngaji dengan baik.
Ini memang mengherankan.
Kami beranjak remaja. Di SMP tedekat, dalam
satu periode sekaligus, Ia mampu menjadi Ketua Osis dan Ketua Pramuka yang
baik. Ya, saya bilang baik karena ketika Ia memimpin, kebanyakan murid merasa
gembira. Dia kondang, setiap yang
bertemu dengannya Ia kasih senyum duluan. Apalagi adek kelas yang sering
menitipkan surat cintanya ke saya untuk dia. Sering saya baca dulu. Saya kan
juga pengen disegani dan punya fans.
Entah karena apa, saat itu Ia jadi sering
punya pendapat yang berlawanan dengan guru. Jiwa protesnya memang sudah nampak
sejak kecil. Tapi, ketika itu Ia nampak berapi-api, kadang kecolongan sehingga dianggap tak sopan. Banyak guru yang malas
berurusan dengannya. Sering saya sarankan agar dia manut saja sama guru. Tapi, ia masih ingin membuka ruang jagong
diskusi dengan siapapun. Ia tak ingin jadi bebek piaraan yang dituntut turut
dalam peta perjalanan penggembala. Ia ingin jadi elang yang terbang merdeka!
Baginya, selalu ada yang harus dibenahi.
Seperti, stigma bahwa Pramuka adalah
organisasi yang keras – ia patahkan. Ia tercatat menjadi pemimpin yang tak
pernah tega memberi hukuman. Padahal biasanya orang sangat bangga mampu
menghukum adik angkatan. Ia malah senyum-senyum saja. Ia biarkan guru yang
ingin menghukum murid-murid itu. Sambil di belakang nanti. Diam-diam ia bilang,
“Maaf ya, tadi saya tak bisa menyelamatkan kamu dari hukuman. Besok angger jangan diulangi.” Hal ini terus
menambah keheranan saya. Teror yang menghantui saya. Meski tak berharap juga
siapapun menjelaskannya.
Saya juga pernah diajak untuk main teater
dengannya. Kala itu sebuah drama tentang desa kami. Kami datangkan seorang
seniman. Menemani kami berproses. Itu pementasan pertama. Sahabat saya menjadi
pembuat naskah sekaligus sutradara. Kami menikmati cara Ia memimpin. Meski
kadang gemes, karena muncul
ketenangannya di situasi kami yang tegang. Itu malah membuat kami merasa tidak
dipedulikan.
Di pentas pertama itu, tak pernah Ia duga.
Seniman yang membersamai kami malah ngobrol dengan bapaknya. Ternyata, mereka
berdua adalah teman satu geng ketika SMA. Seniman itu tak percaya bahwa Sahabat
saya – sutradara pementasan ini adalah Putra dari kawan lamanya. Ini karena
jejak masa lalu yang ditorehkan bapak Sahabat saya itu, tidak sejalur dengan
yang terjadi sekarang.
Banyak sekali keheranan yang muncul
sewaktu-waktu. Hingga heran kagum kepadanya seperti menjadi kewajaran. Kini
kami sudah dewasa, sudah berkeluarga dan beranak pinak. Kami hanya mampu
mengenang rasa bangga kepadanya. Semua yakin bahwa desa ini punya tokoh
kebanggaan. Bahkan menjadi kebanggan semua orang di bangsa yang besar ini.
Sekarang, kami sedang menunggu kedatangannya yang tiba-tiba, lagi.
Saya harap apabila Ia membaca layang kangen ini. Ia akan tersenyum.
Saya merindukan sekali senyumannya yang teduh. Tak apa saya tak melihatnya.
Saya hanya ingin memastikan bahwa Ia masih mampu tersenyum. Sebab dari berita
yang saya dengar. Suatu kelompok menyebar pamflet teror. Di mana-mana orang
membicarakannya. Di pamflet itu, tertulis bahwa akan ada sekian nama yang
menjadi target Snipper. Salah satunya
adalah Sahabat saya itu. Tokoh kebanggaan kami itu. Kami tak pernah menduga ada
orang yang mampu membencinya. Kami sangat khawatir. []
Tentang Penulis
Tiyo Ardianto, lahir di
Kudus 26 April 2003. Menempuh pendidikan di Omah Dongeng Marwah. Terpilih
sebagai peserta Pertemuan Penyair Nusantara 2019 di Kudus.

Komentar
Posting Komentar