Artikel Terkait Puisi ,
Keempat Rindu
01
Sebelum senja
kembali keperaduan | kepadamu, tuan | ku nyatakan rindu. | Oh, burung senja | oh, langit yang mistis | oh, debur ombak di tepian. | Kau lihat?! | Aku menulis namamu di antara pasir yang
menghampar | dan berkali-kali ombak
menghapusnya dengan santai. | Tetap saja aku percaya | sebab dari gerak tubuhku yang teratur | ada satu hal yang tak pernah ku tahu | dari mana datangnya rindu?
02
Dari mana
datangnya rindu? | Mungkinkah dari tetes hujan yang jatuh melalui
liang mata | atau dari nyala api yang membakar ladang hati | atau dari udara yang kuhirup menelusup ke jantung? | O, airmata | o, api asmara | dan udara yang berembus tiap waktu. | Aku kerap bertanya sendiri | dan kau tetap saja menduga-duga | dari mana datangnya rindu?
03
Apakah rindumu
padaku benar-benar rindu? | Api yang kunyalakan membakar ladang hati | dan hujan pun jatuh melalui liang matamu. | Apakah rindumu padaku benar-benar rindu? | Seperti udara yang berembus tiap waktu | seperti gerak absurd dari tubuhmu | seperti jejak kaki yang berlalu. | Apakah rindumu padaku benar-benar rindu? | Hujan yang jatuh meletis melalui liang mata | menyemai benih pohon yang tiba tumbuh di ladang hati yang lain. | Dan kulihat | sekawanan bangau menggiring senja kembali keperaduan | Apakah rindumu padaku benar-benar rindu?
04
Ke mana lagi harus kuraibkan rindu selain ke jalanan? | O, debu jalanan | o, udara jalanan | o, suara bising jalanan | o, aspal jalan
yang memulur menuju rumahmu. | Kau pun tahu gadisku | aku ingin pulang | aku ingin pulang | dan aku pun tahu kau tak pernah mengunci pintu. | Tapi gadisku, | kata-kata adalah bayang-bayang | merayap ke jantung | melikut di dada. | Bagaimana aku dapat menampik bayang-bayang | o, air mata yang mengalir | bagaimana aku dapat mengincit bayang-bayang | o, wajah rembulan yang pucat. | Gadisku, | aku ingin pulang | aku ingin pulang | ke mana lagi harus kuraibkan rindu selain ke jalanan?
Kalibuntu, 2019
Bayang-bayang Itu
Haruskah aku
jadi bayang-bayang | menemanimu di alam impian | merelakan sepenuhnya darah, daging, tulang yang membuatmu
bersedih. | "Tak perlu" | kau pasti meluahkan kata itu. | sebab bersamamu | aku belajar segala hal yang tak terkata dengan sempurna | dan aku memelukmu | kau menjelma ibu yang menerima pelukanku.
Kalibuntu, 2019
Tentang Penulis
Emroni
Sianturi lahir di Probolinggo, Jawa
Timur, 06 Desember 1995, tepatnya di desa Kalibuntu. Tamatan MA Nurul Islam
Kalibuntu dan bergiat di komunitas Warna Sastra. Beberapa karyanya mulai
tersiar di media masa, juga di buku antologi bersama: Kekasih sejati (Pram2ne
Publisher), Sayap-sayap Kenangan (At Press Surabaya), dan Balada Cinta Orang
Terkasih (Naa Publisher)


Komentar
Posting Komentar