Puisi-puisi Imam Ar-Ruqi; Salam Baka dari Pujangga

Artikel Terkait Puisi ,




Salam Baka dari Pujangga

Salam, wahai apa kabar jejak yang diawetkan
irisan langkah masihkah menjelma rumah bahasa yang  dipayungi kata-kata bianglala?

Membiakkan air mata yang  tumpah membanjiri jendela
membasahi kain  menyusup sempurna seperti cahaya

Selama ini tembok-tembok  hayalan ditata menjadi katedral menembus mega- mega
merasakan api sebagai bahasa sejuk, pula air dalam panas-nya yang merajuk

Menyetubuhi rasa yang dibawa sayap burung dalam nada- nada ingatan
menamakan kami sebagai bayang-bayang perasaan  di setiap  dada orang-orang

Gendewa, 18 Oktober 2018 


Di antara Sejuta pintu

Tabahlah, cahaya mentari jadi satu-satunya kehangatan ini
Februari  seringkali menamai dirinya  lebat hujan
Sedang kayu di perapian tak ubahnya pelacur yang menunggu pelanggan
miris orang menyandang ustad mencabuli muridnya  di kamar mandi masjid
penyair memasak rasa dalam kata-kata yang paling tentram
Para santri mengaji berharap karunia Ilahi
Seorang ayah bermandi keringat mencari nafkah untuk anak istri
Dan para sufi berkhalwat dengan yang maha mencitai
Sementara aku masih bingung pintu mana harus dimasuki
seperti  butir embun di daun jati yang ranggas bulan juli
rela gugur dan memuai pada cahaya paling binal
Menjadikan-Nya kompas untuk tubuh terhempas pada yang memberi nafas

Annuqayah, Lubangsa 06 Juli 2018




Munajat

Nikmatilah, sunyi sedang mengamuk  menikmati duri sepi yang menusuk
Kuping tetap setia mendengar zikir detak jam sepertiga malam
Sementara hatiku selalu meminta untuk disiasati
Merapal Asma-Nya dalam setiap gerak tubuh sebelum subuh
Sebelum embun memuai membawa takaran selaksa doa
Seiring binatang malam mengamini berjuta-juta hajat yang dipanjatkan

Tersenyumlah, kesengsaraan ini akan segara usai
Setelah Al-fatihah sempurna terlafalkan
Sebab sembilan puluh sembilan Asmanya
Telah menggaris jelas di setiap madah tangan-tangan para hamba-Nya

Amin..

02:15| Annuqayah, Lubangsa 13 Juli 2018


Sesunyi

Sungguh terlalu rumit memaknai suarasuara sumbang tengah malam
Seperti menerjemah bahasa sunyi
Selalu melahirkan ketakutan pada perut yang kelaparan

Seringkali kegelapan merindukan purnama yang merona
Saban saat nurani tertutupi naluri dalam batas wajar dan sadar

Syahdan, sempurnalah  angin berbisik  menakar dingin setiap hangat perjumpaan
Senantiasa rapal tasbih terpanjat untuk menyekat segala yang pekat
Serupa debu di cermin, harus diusap agar wajahku tampak dan tak retak

Oh.. Allah padamulah segala pengertian akan membiak

Annuqayah, Lubangsa 21 Juli 2018


Suatu Saat

Suatu saat
Bersemayamlah ingatan di beranda luka
Masuklah angin pancaroba melewati jendela
Seiring kelopak mawar gugur dir sisa embun yang manyapa

Suatu saat
Bergantilah, acapkali rindu turun menggerogoti
Gerimis dan terik kerapkali jadi saksi perjumpaan
Menjelma instrumen dalam degup yang tersisa
Meski akhirnya waktu akan lebih bijak dari segalanya

Gendewa,11 Oktober 2018


Sepanjang Cahaya-Mu Membiakkan Kemesraan 

Berdenyar nyala api-Mu dalam kalbu
Lantaran rahman-rahim-Mu mematahari gulitaku
Terpancar dari bulirbulir tasbih dalam baitbait zikirku
Teriring aroma tanah kian terhampar sajadah tuk keningku
bersujud merayu atas nama rindu

sepanjang perjalanan onak berkalam uji cobaan
beliung mengamuk menyusun berita-berita peperangan
sebab sadar segalanya butuh derita dan katakutan
perisai sabar menjadi satu-satunya senjata penikam
untuk satu pintu akan terbuka menuju sumber segalanya

barangkali segala yang tampak sebagai pengorbanan
seperti mentari mencintai pagi di tengah embun tengah bersemedi di daun jati
ia ikhlas meski juli harus hilang_ makna diri
memuai di runcing sepi melebur suci
sebagai persembahan desember hingga januari terestui ilahi

Annuqayah,19 Maret 2019


Musafir dan Burung Air Mata

Langkah terhempas, lepas angka-angka hidup berjejal di lingkar almanak. Tumbuh benih luka yang disiram dengan air mata burungburung katulistiwa. Paruhnya membawa seuntai doa. Agar bulir keringat kian menyuburkan denyar ratap harap. Terkirim munajat hening saat kening menyetubuhi tanah yang semakin liat oleh berbagai bekas pijakan-- orang-orang berlari mengejar mimpi yang kian berantakan, dalam lubuk hatinya ia berkata  air mata sebagai kompas kegersangan.
Annuqayah, 22 Maret 2019

Oase Kasih Ibu
Ibu
Serupa budiku ia kemarau kerontang di subur jasamu
Kasihmu mengalir dis tubuh dan detak yang bergemuruh
Menanggung beban sembilan purnama
Senantiasa air matamu luruh sebagai hujan doa

Ibu
Dari kedalaman lubuk kasihmu
Ketemukan selaksa mutiara beruntaian dalam hangat dekap peluk ayunan
Aku meronta, menangis, mengeyel tiada henti saat lampu-lampu mulai dimatikan
Semua itu kau anggap bak debur ombak
Mendidikku menjadi karang merumuskan hidup penuh tantang

Ibu
Atas nama cinta aku bersaksi
Demi gelap menyelimuti aral harap
Engkau pelita bagi anakmu yang buta akan sejuta peristiwa
Jalam terjal katakataku gugur kenalanku berjejal
Padahal kau masih setia mengajarkan bagaimana berjalan
Hingga lari mengejar cahaya menemukan restu Tuhan

Ibu
Kerut-kerut keningmu mengucurkan bening rindu
Sesaat lipatan-lipatan banalku kau balas senyuman
Aku ingat sewaktu kau usap kepalaku sebagai pengantar tidur
Bercerita kisah nabi  hingga kisah al-qomah dengan ibunya
Hingga aku terlelap menyusun mimpi bagaimana caranya berbakti

Ibu
Sumur abdiku kugali saban hari
Tetapi beberapa episode tanah kian menghianati
Namun akhirnya nasihatmu menjelma bening embun
Untuk menahan daun untuk gugur menutupi

Ibu
Aku tak ubahnya ulat hina
Angka sembilan mengajarkan
Menjadi kupu-kupu indah mempesona
Memprimadona setiap kalbuku
Untuk belayan yang kurindu saban waktu

Sumenep, 06 Oktober 2019




Atas Nama Kota yang Bermandi Cahaya 
                                                  
Atas nama kota yang bermandi cahaya
malam ini aku tersesat dalam rimba sejuta harapan manusia
silau mataku dikerumuni laron berselaksa-selaksa
seiring lampulampu mulai hidup di segala penjuru ibu kota

Ah, seperti hilang gejora dan purnama tak menarik suasana
tuk sekedar mengobati lelaki yang sedang patah hati
karena melihat pacarnya mampir di warung prostitusi
kerena hanya meminta dibelikan kincu ia tak merestui

Barangkali entah langkah keberapa duri semakin menumbalkan makna diri
orang-orang dari seluruh suku bermandi keringat menitipkan nasib di ujung monas
lengkung bianglala kian hilang menyusun rumus-rumus sangsi dan gengsi
ia semakin berlumut dan menjerumus
akarnya siaga bertaruh  demi rupiah
meski seketika detak jantung akan berhenti mengitung untung
  
Lihatlah begitu bergelora api-api berkobar di dada mereka
padahal nafasnya semakin panas menggerogoti nisbi
sepanjang jalan trototoar ini
pohon-pohon tumbang diganti rumah bangunan pencakar mega selalu tergelar
Amboy, jika  setiap persimpangan rambu lalu lintas
masih belum bertanda seorang pejalan kaki tidak boleh lewat
maka tenanglah seluruhnya masih bernama sejarah; kegelisahan menjelma perabot rumah yang saban pekan harus bertambah
Bukan tenang air dalam kaca memaknai segala ulu usaha hingga hilir doa

Annuqayah, 02 April 2019




Taneyan Lanjeng

Derap langkah kian jauh memaknai bebukon manis madu para lebah
Begitu panjang cerita ibunda tuk kutafsiri sebagai doa berbiak tengka
Mengalir bersama pembuluh darah dan tanah kapur sebagai pelipur

Seharusnya seperti ketan kita adalah taretan sepanjang ingatan
Begitu romantic dan gembira bocah-bocah berlari-lari di halaman
Bermain bola, petak umpet hingga perang-perangan
Sebelum tau bahwa ini kehidupan bukan lapangan

Amboy, sebelum burung kalowang kembali kesarang
Aku berduyun-duyun bersama teman-teman pergi kelanggar milik keponakan
Satu langkah syiir Abu Nawas telah menggiring mentari kembali kepangkuan

Sungguh sepanjang mata memandang rumah-rumah tanpa pintu belakang
Adalah taretan segalanya mesti harus di kedepankan
Palu dan pacul adalah pekerjaan bersama di songsong sebagai jawaban

06 Oktober 2019


TENTANG PENULIS


*Imam Ar-Ruqi  Nama pena dari Imam Hambali  kelahiran Rajun Pasongsongan Sumenep tepatnya pada  02 juli 1998, Mahasiswa Jurusan Tasawuf  Psikoterapi semester VII Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA), santri aktif  PP.Annuqayah Lubangsa, bersetubuh dengan: Sanggar AIDS IKSAPUTRA, Teater GENDEWA dan komonitas Merunyam Sepi  .Menulis  dalam beberapa Antologi, koran dan majalah salah satunya:Radar Madura, Koran Madura,Radar Surabaya,Rakyat Sultra,Malang post,Takanta.com, Memoar Perjalanan MA 1 Annuqayah (centrik 2016) Requiem Tiada Henti(ASEAN-1 Puwokerto 2017)IJE JELA (Tifa Nisantara 3, 2016) 100 Puisi terbaik NU Maroco (2016) Di bawah pohon willow(Gennom 2016)Kepada Toean Dekker(Multatuli 2018) A Skyful Rain(Banjar’s baru 2018)Majalah Panji (BBJT 2016)Majalah SIDOGIRI (2017) Kembang Api (ellunarpublisher2016) Indonesia Bersajak(SSAN& Rumah kita 2016)  Serangan perlawanan  (SSAN& Rumah kita 2016) Fb: Imam Ar-Ruqi Alamat jl. Makam pahlawan NO 02 PPA.Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep Jawa Timur 69463 email: averousluka@gmail.com 

Komentar