Puisi-Puisi Mohamad Iskandar; Hu Ha Hu Ha

Artikel Terkait Puisi ,

 


Hu Ha Hu Ha


dari sebagian kami:

golongan yang rajin bersumpah

atas nama Tuhan

tetapi, 

korupsi terus dilakukan

atas nama kemajuan

yang dicatatkan dalam 

undang-undang nomor sekian

dan terus berulang


dari sebagian kami:

yang tersohor di dunia

sebagai insan pendosa

yang rajin mendekati Tuhan

dengan doa-doa

tetapi abai dengan kerusakan


hu

dalam bahasa kalbuku

tangis merayu, duka menunggu

inilah zaman penghabisan

negeri subur kemiskinan tak terukur


ha

maafkanlah kiranya

bibir yang pandai berdusta

tangan yang rajin merusak

pikiran yang berlaku nista

hati yang dipenuhi noda


hu

dengarkanlah lirih pinta

berikanlah rahmat-Mu

yang agung dan menjadi tuju

sebab dari sebagian kami

menzalimi diri dengan ingkar


ha

sucikanlah hati kami

yang tersesat glamor dunia

dengan sentuhan kasih-Mu

agar lapang mendengar azan, lapang menerima nasihat, lapang menjaga lisan, lapang saling memaafkan, dan lapangkanlah nurani kami. 


sebab kami tanpa daya

tanpa kehadiran-Mu

ya Rabbi... 


Demak, 31 Maret 2026




Bermalam di Dieng


kabut dingin dan embusan angin, meredupkan dayaku

mengingat yang tidak lagi utuh, antara diri dan bayangmu

sebab terlalu lama

hilang pendar

menjelma asing


_jam-jam petualangan, tunduk di palung kesunyian_


o retak kisah

patah kata-kata

terangkum hikmah

janji melayang & rapuh merindu

                       yang pupus

                       mimpi putus


sedihnya kiranya

ditinggalkan & meninggalkan

duka mewujud

batu yang dilemparkan

ke jantung danau

ke isak kalbu

                        debar menuju


mungkin sesekali, hendak diziarahi

bayang cumbu endapan kasih

turun dari perbukitan

lama sekali terkenang

       sari berparas ceria

       di hatinya abadi luka

      larut ke pancuran tiba


kabut semakin putih

tiba di lembah-lembah

menyentuh tubuh jiwaku

seperti hendak menandai

waktunya kerapuhan tandas

berganti lain kisah, tahap demi tahap

muncul dalam samadi


lalu kita, demak & dieng

menjadi satu-satunya rahasia

yang tembus ke bayang

menurun kabut perlahan


                              bimbang


Demak, 4 April 2026



Ramadan di 2026


dunia diambang suram


masihkah iman menjaga kewarasan, dan

suasana hati tersentuh ayat-ayat suci? 


dunia dikepung kesedihan


masihkah ied merayakan gembira di badan? 

o, kasih-Mu di sepertiga malam, mengusir getir, melemparkan resah, dan aku jatuh.


masih 7 hari keteguhan

puasa tubuh, puasa jiwa, puasa hati, puasa kata-kata, 

menembus babak demi babak kerahasiaan


mata basah

hati pasrah

di keagungan nama-Mu

aku tundukkan kerelaan

sebab dari balik kesedihan

akan muncul sinar kebahagiaan


          pasti tergariskan


tak luput menziarahi waktu

                                 masa lalu

                   ada yang berlaku

                              dan berlalu


maka atas nama ramadan

tak peduli dunia suram atau kesedihan

kita layak jadi pemenang

di akhir-akhir waktu, ramadan milik-Mu, juga tubuhku... 


Demak, 12 Maret 2026



Tentang Penulis

Mohamad Iskandar 

Lahir dan dibesarkan di Sidomulyo Krasak Kecamatan Dempet Kabupaten Demak. Belajar puisi secara otodidak dan gemar membaca apa saja. Puisi-puisinya dimuat dalam berbagai media cetak dan online diantaranya Nusa Bali, Suara Merdeka, Majalah Elipsis, Ompiompi.com, Biem.co, Penaterbang.com, Barisan.co, Annairi.co, Pustaka Ekspresi, majalahelipsis.id, tirastime, balipolitika, RanahRiau.com, lamanriau, riausastra, haluankita.com, Eneste.id, dan Harian Visualisasi Puisi. Mendirikan Kelas Puisi Alit (KEPUL) dan Ruang Kata. Buku puisi terbarunya berjudul OKIN (2024). Bergiat di Competer Indonesia dan beberapa komunitas sastra online. Instagram: moissana, Facebook: Mohamad Iskandar




Komentar