Artikel Terkait
Mustafa divonis kanker, tim dokter memperkirakan Mustafa hanya akan sanggup bertahan dalam beberapa pekan. Kendati demikian, ia masih asyik dengan buku bacaan di tangannya. Itu buku kelima dari enam buku koleksi pribadinya yang ia bawa ke rumah sakit, masih tersisa satu judul buku yang belum tersentuh. Mustafa berharap akan bisa menuntaskan semua buku itu. Sebelum nanti, ia akan fokus pada empat buku baru permintaannya kepada Sultan.
"Pada saat-saat begini, apa yang bapak inginkan?"
Beberapa hari lalu, Mustafa dikejutkan oleh pertanyaan serupa itu dari Sultan.
Dan itulah awalnya Mustafa mendapatkan buku-buku yang diingininya. Barangkali Sultan sadar, menjelang kematian yang seperti telah ditetapkan pada Mustafa tak lama lagi, kesempatan untuk berbakti kepadanya tak lagi panjang.
"Barangkali bapak ingin pelesiran ke luar negeri. Main-main ke pantai dengan pasir putih yang indah. Makan enak di restoran dengan menu terbaik. Atau, bapak ingin sebuah hadiah yang sedari dulu begitu bapak idamkan," lanjut Sultan memberikan beberapa opsi.
Itu semua demi menyenangkan Mustafa. Bagi Sultan, apa pun keinginan. Mustafa nantinya, belum seberapa dibandingkan dengan jasa Mustafa pada ayahnya.
Mustafa dan ayahnya Sultan, dulunya kawan lama. Mereka satu kampus, sama-sama pengurus BEM. Namun jalan hidup mereka berbeda. Ayahnya Sultan hidup berkecukupan setelah jadi pengusaha perhotelan. Sementara Mustafa memilih menepi di kota kecil kelahiran istrinya. Menghidupi keluarganya dengan menanam kentang, bawang dan pisang, sembari merintis karier menjadi penulis.
"Atau mungkin bapak ingin pulang ke kampung halaman? ke dusun kecil yang indah itu, bukannya bapak bilang sudah lama sekali tak ke sana?"
Mustafa masih diam. Tak ada satu pun ide yang dilontarkan Sultan menarik hatinya. Sultan menangkapnya dengan jelas. la jadi tak enak hati, takut menyinggung perasaan Mustafa. "Aku tidak bermaksud kurang ajar atas pertanyaan itu," Sultan duduk di atas ranjang rumah sakit sambil melucuti kacamata hitamnya. "Aku cuma ingin menetapi janjiku dengan ayah agar merawat bapak sebaik-baiknya."
Sejak kecil, Sultan memang telah disusupi ayahnya cerita tentang Mustafa. Kata ayahnya, Mustafa merupakan seorang teman yang telah menyelamatkan nyawanya saat bentrokan dengan aparat kepolisian. Masa itu, demonstrasi memang mudah sekali merebak. Mahasiswa sering turun ke jalan, bentrokan jadi tak terelak. "Jika bukan karena Mustafa yang menarik lenganku masuk ke dalam gang-gang sempit, sudah barang tentu peluru itu sudah menembus kepalaku."
Begitu sang ayah bercerita pada banyak kesempatan. "Sayang sekali, usai kuliah aku kehilangan jejak Mustafa," lanjutnya.
Atas permintaan ayahnya, Sultan sebetulnya telah lama mencari Mustafa.
Namun hingga sang ayah meninggal, keberadaan Mustafa tak pernah mampu dilacak. Bahkan, di sela nafas terakhirnya, sang ayah tak alpa menitipkan pesan, "Jika suatu saat kau bertemu dengan Mustafa, rawatlah ia dengan sebaiknya seperti kau merawatku." Memang suratan takdir, dalam hitungan bulan sesudah ayahnya meninggal, Sultan justru menemukan Mustafa.
Pesan itulah kini yang coba ditunaikan Sultan.
Kondisi Mustafa tak menunjukkan perubahan berarti. Prediksi tim dokter tentang usianya yang tak lagi lama kian memperlihatkan kebenaran. Dan Sultan, sungguh ingin Mustafa mendapat sedikit kebahagiaan dalam hidupnya lewat penawaran yang diajukannya.
Sultan telah siap dengan permintaan yang barangkali sedikit aneh dan butuh usaha ekstra baginya untuk mewujudkan. la juga telah menyiapkan kocek dalam-dalam untuk merealisasikan itu. Tetapi, permintaan Mustafa memaksa Sultan geleng-geleng kepala. Pada akhirnya, Mustafa memilih buku dari sekian pilihan menggiurkan yang diberi Sultan.
"Bapak telah bertahun-tahun hidup dengan buku. Apa tidak ingin mencoba sesuatu lain daripada itu?" bujuk Sultan. la merasa kasihan, betapa hidup orang tua itu sangat menyedihkan di matanya. Bergelut dengan tulisan dan buku yang entah untuk apa, bahkan di ujung usianya yang tinggal sisa-sisa.
"Kau tahu? Bagiku membaca buku-buku itu seperti bertemu surga."
Sultan terenyak. la keliru besar menilai orang tua itu. Rupanya surga bagi Mustafa amat sederhana, dan tak bisa terganti.
"Apa bapak ingin ke surga?"
Mustafa mengangguk. "Aku telah menulis empat judul buku di sini," Mustafa menyodorkan sobekan kertas pada Sultan. "Belikan saja keempat buku itu jika kau ingin berbakti kepadaku."
Sultan pun tak lagi banyak cincong. la mengunjungi toko buku terbesar di kota itu. Tapi tidak semua buku yang diminta Mustafa tersedia. Sultan cuma mendapatkan dua buku. Penjelasan karyawan cukup membuatnya lemas. "Dua buku lainnya terbitan cukup lama, Mas. Belum tahu kapan akan kembali tersedia di toko kami,"
Ah, mungkin inilah kesulitan mewujudkan permintaan Mustafa, pikir Sultan. la bertandang ke berbagai toko buku di kota itu seharian. Pada sebuah toko buku kecil di persimpangan gang, ia berhasil menemukan lagi satu buku yang dicari. Tetapi satu buku tersisa betul-betul tak ada yang menjual di semua toko buku yang la kunjungi.
"Kira-kira ke mana saya harus mencari buku tersebut?" Pada setiap toko buku, Sultan selalu menanyai itu.
"Mungkin bisa kontak penerbitnya langsung. Mana tahu masih ada stok di gudang mereka."
Begitulah awalnya Sultan mendapatkan buku yang terakhir. Keesokan sorenya, keempat buku itu telah mendarat di samping tempat tidur Mustafa.
"Terima kasih, Nak. Kau tahu? Buku ini semuanya novel klasik. Akan sangat berguna bagiku." Sultan cuma mengangguk mendengarnya, tentu Mustafa tak perlu tahu, bahwa demi buku-buku itu, Sultan harus melewati banyak tikungan gang.
Pekerjaan yang nyaris tak pernah ia lakukan selama ini.
Semenjak itu, kapan pun Sultan bertandang, Mustafa selalu dalam keadaan membaca. Sultan melihat ada senyum kepuasan terpancar pada wajah Mustafa tiap kali membolak-balik halaman buku. Sultan masih tak habis pikir, untuk apalagi orang tua itu membaca. Padahal hidupnya jelas-jelas sudah diprediksi sebentar lagi tamat. Apa lagi gunanya pengetahuan yang ia dapatkan dari bacaan, kalau dalam hitungan hari saja hidupnya terhenti?
Namun Sultan juga paham, barangkali membaca itu sendiri merupakan hidup dari Mustafa. la terlahir untuk membaca, begitu kesimpulannya. Ayahnya pernah bilang, bahwa Mustafa memang pembaca buku yang rakus. la tak berpikir panjang jika membelikan semua uangnya untuk buku. Dalam sepekan, ia bisa baca dua sampai tiga buku.
Sultan pernah pula bertanya kepada ayahnya, buku apa yang digemari Mustafa. Kata ayahnya, Mustafa penggemar filsafat barat terutama Rene Descartes dan Imanuel Kant. la begitu tergila-gila dengan ungkapan Cogito Ergo Sum ala Descartes -"Aku berpikir, maka aku ada". Namun oleh Mustafa sendiri sering diubah menjadi- "Aku membaca, maka aku ada". la juga menyukai karya sastra klasik. Penulis dari Indonesia malah jarang sekali yang dibacanya. Menurutnya, penulis Indonesia itu terlalu banyak menulis kisah-kisah cengeng. Maka, Sultan tak terlampau terkejut dengan pilihan Mustafa saat meminta novel-novel klasik.
"Jika kau ikut baca ini, kau juga pasti akan tertawa. Ini lucu sekali," ucapnya pada Sultan dalam suatu kunjungan.
"Oh, ya? Bagaimana ceritanya?" Sultan pura-pura tertarik.
"Ini petualangan seorang geolog bersama keponakannya. Mereka rela bepergian ke Islandia, tepatnya di Reykjavik. Menuju sebuah gunung setinggi 5.000 kaki. Setelah melewati kawahnya, si ahli geologi itu percaya akan sampai ke pusat bumi."
"Tidak mungkin," ujar Sultan spontan.
"Haha... persis," Mustafa kembali terkekeh-kekeh, tawanya makin nyaring dan lebar. "Jawabanmu persis dengan si keponakannya. Tapi toh mereka tetap berangkat. Ada-ada saja mereka."
Sultan tersenyum, menunjukkan lagi minat yang dibuat-buat agar Mustafa makin semringah. Nyatanya ia tak paham apa saja yang dibilang Mustafa perihal buku. Dunia mereka terpisah amat jauh. Sultan cuma tahu laporan keuangan yang melejit atau anjlok, laba perusahaan dalam kurun satu bulan terakhir, peluang melebarkan sayap usaha ke kota lain, atau prospek usaha masa depan yang patut untuk dijajal. Tak ada buku-buku di dalamnya, apalagi sastra-sastra klasik yang rumit.
Sultan cuma melirik sampul buku yang tengah digenggam Mustafa, yang kembali damai dalam dunianya selepas perbincangan singkat itu selesai. Sebuah buku bersampul cokelat. Matanya mengeja judul yang tertera: Journey to the Center of the Earth. Di bawahnya, tertulis nama sang pengarang, Jules Verne. Di samping ranjang, juga masih tergeletak tiga buku yang antre untuk dibaca. Pada bagian atas, ada sebuah buku dengan cover hiasan bunga-bunga yang berbalut aksara Cina. Sultan mengeja sedikit, rupanya buku itu berlatar kisah pertengahan abad ke-18 pada masa pemerintahan Dinasti Qing.
Hari terus bergulir, dan Sultan tak mampu membayangkan apa yang terjadi.
Sebagai orang modern, pikirannya didesain untuk selalu percaya pada dunia medis dan apa kata dokter. Walau jika boleh meminta, ia berharap kali ini dokter keliru. Sultan cemas. Tiap hari yang lewat memaksanya menjadi manusia penyabar. Pada suatu ketika, ia merasa jarum jam cepat sekali berputar, ada kalanya waktu begitu lamban.
"Apa benar tak ada lagi usaha kita untuk menyelamatkan dia, Dok?" Sultan tak hentinya bertanya, tiap hari. Dan tanggapan dokter tetap sama. "Berdoa saja, semoga ada hal-hal baik yang datang"
Berdoa. Itulah yang dilakukan Sultan, sesuatu yang jarang ia kerjakan sebelumnya. Selama ini, ia mengunjungi Tuhan semacam berkunjung ke apoteker, hanya waktu sakit dan kesusahan. Selebihnya, nama Tuhan cukup jarang dilafalkannya, namun demi kesembuhan Mustafa, ia berubah lebih religius.
Sampai pada masa-masa terakhir vonis yang dijatuhkan dokter, Sultan masih mengharapkan doanya didengarkan Tuhan. Sementara Mustafa tak pernah berhenti dengan kebiasaannya dalam melahap buku-buku yang tersedia.
"Setelah buku ini tamat, aku tak lagi punya buku baru untuk dibaca, Nak. Apa kau keberatan mencarikanku buku-buku yang lain?"
Tentu saja Sultan menggeleng, kali ini ia tak lagi mencoba merayu dan mengalihkan Mustafa pada penawaran lain. Sultan tersenyum, mengangguk kemudian. Tak banyak kali ini yang diminta Mustafa. Hanya dua buku. Kemujuran juga menaungi pencariannya. Tak seperti kejadian pertama yang mengharuskan Sultan masuk gang-gang kecil. la dengan mudah menemukan dua buku yang dimaksud Mustafa pada satu toko buku saja.
Tak sampai setengah jam, Sultan telah kembali ke rumah sakit. la menyusuri lorong-lorong panjang yang ramai oleh gerombongan mahasiswa yang sedang magang di lantai dasar tanpa ia tahu kalau Mustafa sedang mengalami koma di ruang perawatannya. Sultan menaiki lift kotak, memencet angka delapan tanpa mengetahui bahwa Mustafa berada pada detik-detik terakhir dalam hidupnya.
Yang Sultan tahu, saat kakinya menjejak lantai delapan lalu menuju ruangan tempat Mustafa dirawat, ia menemukan dokter telah menutup wajah Mustafa dengan selimut.
"Kau terlambat sedikit. Dia telah tiada, beberapa detik yang lalu." Dokter memandangi Sultan dengan tatapan iba. Suaranya terbata-bata. "Dia pergi dengan tenang. Aku menyaksikan sendiri bagaimana dia menyelesaikan dengan senyuman halaman terakhir buku yang dulu kau beri itu."
Sultan tercekat, hampir saja ia terjengkang. Ada sesal dalam hatinya karena tak sempat memberi buku-buku baru pada Mustafa. Dokter berlalu, menepuk pundak Sultan, menyatakan turut kehilangan yang mendalam.
Sultan berjalan ke sisi ranjang. Membuka selimut yang menutupi muka Mustafa. Dilihatnya wajah itu tersenyum. Wajah yang sama saat ia mendapati Mustafa sedang membaca. "Apakah bapak tidak capek membaca? bahkan dalam kematian sekali pun." Sultan bertanya lirih dengan mata memerah. Lalu di dalam dirinya, ia seperti mendengar kembali jawaban khas Mustafa: "Membaca buku-buku itu bagiku seperti bertemu surga."(*)
Tentang Penulis
Romi Afriadi


Komentar
Posting Komentar