Artikel Terkait
Oleh. Pipiek Isfianti
(Aktris Keluarga Segitita Teater Kudus)
Teater Songo Koma Songo (SKS) Senin, 30 Maret 2026 mementaskan naskah "RT Nol RW Nol" karya Iwan Simatupang di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) yang disutradarai Danang A. A.. Teater ini lahir dari komunitas kampung (desa Megawon kecamatan Jati) jelmaan dari aktifitas berpentas IPNU-IPPNU desa setempat..
Berangkat dari latar komunitas tersebut, pementasan ini tidak hanya menjadi peristiwa artistik, tetapi juga pertemuan antara teks besar dalam sejarah teater Indonesia dengan praktik teater kampung yang hidup dari keterbatasan sekaligus kebersamaan. Di sinilah menariknya, bagaimana sebuah kelompok teater berbasis kampung membaca, memahami, dan kemudian menerjemahkan naskah yang dikenal kompleks dan filosofis ke dalam bahasa panggung mereka sendiri.
Naskah "RT Nol RW Nol" karya Iwan Simatupang merupakan salah satu "tonggak penting dalam perkembangan teater modern Indonesia. Karya ini sering dikategorikan sebagai naskah absurd, sebuah bentuk naskah teater yang menolak logika linear dan menampilkan kenyataan sebagai sesuatu yang tak pasti, bahkan cenderung tanpa makna. Namun, persoalan menarik muncul ketika naskah absurd seperti ini dipentaskan dengan pendekatan realis. Ketegangan antara dua pendekatan ini justru membuka ruang tafsir yang kaya, sekaligus menjadi tantangan besar bagi sutradara.
Sebagai naskah absurd, "RT Nol RW Nol" tidak menawarkan alur sebab-akibat yang jelas. Tokoh-tokohnya hidup dalam situasi yang stagnan, terasing, dan nyaris tanpa perkembangan dramatik yang konvensional. Dialog yang dihadirkan sering kali melompat-lompat, penuh pengulangan, dan lebih mencerminkan kegelisahan eksistensial daripada percakapan sehari-hari.
Dalam kerangka ini, (ini yang penting dalam naskah ini) absurditas bukan sekadar gaya, melainkan cara pandang terhadap kehidupan yang tidak dapat dijelaskan secara rasional.
Namun, ketika seorang sutradara memilih pendekatan realis dalam memantaskan naskah ini, muncul kebutuhan untuk "merapikan" dunia yang semula kacau tersebut. Realisme dalam teater menuntut adanya motivasi yang jelas, hubungan sebab-akibat, serta tindakan yang dapat dipahami secara psikologis. Di sinilah letak tantangan utama: bagaimana menjembatani teks yang secara inheren anti-logika dengan tuntutan pementasan yang mengedepankan logika.
Akibatnya, sutradara sering kali terdorong untuk mencari atau bahkan menciptakan sebab-akibat dalam adegan. Dialog yang semula ambigu diperlakukan seolah-olah memiliki maksud yang spesifik. Tindakan tokoh yang absurd diinterpretasikan sebagai respons psikologis terhadap situasi tertentu. Atau alasan untuk menggiring penonton pada klimak pentas sehingga memasukkan (lebih tepatnya memaksakan sebuah adegan) sebagai jembatan menuju ending pentas.
Upaya ini sebenarnya dapat membantu penonton memahami pertunjukan secara lebih konkret, tetapi di sisi lain berisiko mereduksi kekuatan utama naskah, yakni ketidakpastian dan kekosongan makna itu sendiri.
Pendekatan realis terhadap naskah absurd juga dapat menghasilkan lapisan makna baru. Alih-alih menghilangkan absurditas, realisme justru dapat mempertegasnya melalui kontras. Ketika situasi yang tidak masuk akal ditampilkan dengan gaya yang sangat "nyata", penonton mungkin akan merasakan keganjilan yang lebih kuat. Realisme tidak selalu menjadi lawan absurditas, melainkan bisa menjadi alat untuk menajamkannya.
Di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai status "RT Nol RW Nol" sebagai naskah lama. Ditulis pada paruh 1960-an, naskah ini kerap dianggap sebagai bagian dari khazanah klasik teater Indonesia. Sebutan "klasik" dalam konteks ini tidak semata-mata merujuk pada usia, tetapi juga pada daya tahan gagasan yang dikandungnya. Tema keterasingan, kemiskinan, dan pencarian makna hidup tetap relevan hingga hari ini, bahkan mungkin semakin kontekstual dalam masyarakat modern yang terus berubah.
Oleh karena itu, pementasan naskah lama seperti ini tidak hanya boleh, tetapi justru perlu ditafsirkan kembali sesuai dengan kondisi kekinian. Tafsir ulang bukan berarti mengkhianati teks asli, melainkan menghidupkannya dalam konteks baru. Sebenarnya, dalam peristiwa di Auditorium UMK itu, sutradara dapat mengaitkan situasi "RT Nol RW Nol" dengan realitas sosial masa kini-misalnya tentang mereka yang terpinggirkan secara ekonomi maupun identitas. Dengan demikian, pertunjukan tidak hanya menjadi reproduksi karya lama, tetapi juga dialog antara masa lalu dan masa kini.
Kesimpulannya? Tidak harus sebuah tulisan usai menyaksikan pementasan teater harus memberikan kesimpulan. Hanya saja, pementasan "RT Nol RW Nol" dengan pendekatan realis menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Sutradara dituntut untuk menavigasi ketegangan antara absurditas teks dan logika pementasan, tanpa kehilangan esensi keduanya. Di saat yang sama, sebagai naskah yang dapat dianggap klasik, karya ini justru menuntut tafsir ulang agar tetap relevan. Dalam proses itulah, teater tidak hanya menjadi medium pertunjukan, tetapi juga ruang refleksi yang terus berkembang seiring zaman.
Tentang Penulis
Pipiek Isfianti


Komentar
Posting Komentar