Puisi-puisi Junaidi; Kalah

Artikel Terkait Puisi ,







kalah


aku kalah dalam banyak citra,
meski cinta tak pupus dada
matamu masih pandang bunuh
dan kalahku memeluk sesak

dan mendengarmu bercerita,
ialah ujung waktu menakuti
sebab tak ada cipta dan kemampuan
memberi dan mengasihi.
ujung matamu berair luas dadaku
meledak, kita saling pandang.
luka kalah kita masing-masing
menempati singgasana hati paling purba.

Pati, 2019



Pagi

elegi hangat dan sisa dingin semalam kantuk
kopi di cangkir mencecap bibir ngilu.
semalam dan malam-malam jatuh saling mengingatkan, pernah bermesraan hingga berdarah perih.
dan cinta pagi masih terlalu dingin, aku masih terlalu dini menamai cinta sedang kau terluka.

Ngawi, 2019




Hujan


hujan air mata langit
membawa gigil ingatan
dan rentetan sengkala
dengan pijarnya
menyingkapi satu-satu kenangan.

rintis dingin menghantar ziarah ingatan
tentang putus nasib, dan juta tetes mata
hujan air mata nasib, dan kematian cita.
harusnya tutup usia dimakan laron dan kunang
selepas tanggal menutup mata.

apalagi?
hujan ialah air mata dan kau
diam-diam mengusapnya.

Ngawi, 2019





Liku

pernah…
artinya kita telah sampai
dan melampaui macam jalan
siak hutan belantara, batu cadas licin.
kita renangi bersama pada malam remang

gerimis merintisi lelah.

ujung belati menghujami,
malam tambah usia, rintik jadi hujan,
menggenangi segala harap, hingga tak dapat
mengecup suasana, di kala kita benar bersama. dan air mata kita dongkol,
ketakutan menyatu di ubun.

tubuh kita layu bak sayur lusuh debu.
ya ada satu pinta, dan juta keinginan.
jalan bagai rentetan keringat yang menyehatkan dan kita telah lalui itu dengan macam cara.

dan apalagi yang kita maui?

Ngawi, 2019



Kuburan

lihatlah sini
kemari,
ke dalam relung purba,
dan selami sekian panjang
ingatan yang mengekor

dan jangan salahkan laku
tak semua hati ingin teriris
tak kan ada mata yang ingin sembab
dan aku tak ingini dada ini meledak
tanpa ketulusan nasib.

tetapan berjalan pada rel kereta usia
stasiun, kita tak tahu di mana dan kapan ujungnya,

Dan
Sebaiknya, kita jaga barang titipan sebelum turun di kuburan.


Pati, 2019



Serah

ada hasrat kecil
sekecil kepasrahan
hidup miskin tak berdaya
lantas kau sebut itu sebagai upaya

pembebasan dan menipumu
seraya mengantarkan bulir mata kesedihan
dan tipu daya manusia telah selesai dan tamat
mataku matamu sayu, nanari nasib

kapan kita bersama damai, sedamai-damai tawa?

Pati, 2019




Demi namamu

demi namamu di awang-awang,
tinggi pandangmu melelahkan.
dan tutur citramu yang memabukan

demi yang kian busuk.
aku masih menaruh harap.
baptis, ku beli dengan air mata yang kalah.

aku terus berjalan, tanpa tahu di manakah tempat istirahat. sementara bayangmu terus membujuki, sekali tidak aku kan mati.


Pati, 2019




Mari…

di mana pun tempat, kepada siapa pun manusia yang kutemui.

di zaman ini, amplop pamrih melucuti manusia kita.
menyenggamai hingga puas dan tuntas,
lantas mengandung segunung citra dan berlendir janji kesepakatan.
kita bersama melahirkan kemunafikan, dan pembenaran penguasaan isi-isi amplop.
kita rawat dan besarkan bersama-sama menjadi koruptor, dan kelak menjadi penjajah kokoh untuk tanah lahir (mati) kita bersama ini.

kepada
kita, di mana pun tempat, siapa pun manusia yang kita temui.

pembalut wanita kita datangkan bersama dari negeri tirai bambu, micin dan seperangkat kontrasepsi pun tak luput, kita beramai-ramai mabuk beli dan beli. dari luar sana, dan kita semua di sini, tidak untuk pak petani, dan para buruh yang tak kenyang. mari kita nyanyikan bersama lagu-lagu K-pop gantikan darah merah merah-putih, dan tanggalkan lagu pahlawan kita yang putih.

mari kita bersama dirikan gedung yang tinggi-tinggi, meramaikan pesta investasi, dari investor mantan penjajah bapak-ibu Nusantara. mari kita dukung bersama. kepada siapa saja yang mulai mengepung jati diri kita bersama.
dan, mari bunuh diri bersama-sama…

Pati, 2019


Hujan dan malam

hujan dan malam
cinta yang dalam
cinta yang pendam
nurani yang padam

hujan dan malam
pandang memikat
jiwa terikat
dada yang temaram
berbuah bunga tanya
tak hasil jawab
dan tanya tetap berbisik
hujan di malam dan pipi
di mana kau, di mana kita
di mata ini…

Pati, 2019



Suatu nanti

saat kau dipanggil mama
dari mulut mungil,
jangan terperangah, dan jadi benci
saat itu pula secara benar
kau ketahui apa saja dan mengecewakan.
sisiku yang tak kau tahu sejauh ini.

hidup hanya menanti
kekecawaan, dan aku meminta ampun soal itu.
hidup hanya menanti permaluan diri dan aib tinggal menunggu cara bagaimana akan terlihat.
maka saat anak itu menangis dan memanggilmu mama, ku harap
kita telah sama-sama usai, menerima kurang dan dosa kita masing-masing.


Pati, 2019



Lubang

Hidup bagai pengadilan
Salah-benar, benar-salah,
Enak, tidak-enak,
Dan, manusia berada ditiap ujungnya.
Kewarasan ialah cerita omong kosong. Dari mulut dan hati yang tak saling mencintai.
Dan selalu kita dengar, segala petuah dari nurani sendiri,

tak seimbang kepada cerita laku yang terjadi.
Jalanan seperti rayap yang melahap, tikus yang mengerat,
Kebatinan, kewarasan, dan manusia mutakhir.
Sia-sia, terbawa arus cinta yang memesona,

rasa yang tak pernah tamat, dan kita harus pandai-pandai mencari lubang. Sepandai lubang, hanya lubang tanahlah kita tertambat.

Pati, 2019



Oleh:

Junaidi lahir di Pati, menulis puisi dan membaca pekerjaan tetapnya.
ikut njagong dengan Jumari HS. bisa dibaca lewat juna7.wordpress.com
fb. https://www.facebook.com/junaidi.jawara

Komentar