Tokek-tokek yang Suaranya Serak

Artikel Terkait Cerpen ,




Cerpen Akar Ranting Daun; Oleh Administrator

"Setelah Otok, Okek, Tuk Tuk, siapa lagi yang besok mati? Kita harus lebih adem!" Terdengar Komandan Tokek memimpin sebuah rapat kecil di lorong sempit atap gedung tua ini.

"Kemarin Otok terbunuh setelah berbunyi keras." Ucap Tokok

"Iya, Okek juga demikian. Tubuhnya terpental ke bibir sungai." Lanjut si Ukkek

"Sama nasibnya Tuk-tuk. Mati mengenaskan." Tambah tokek bertubuh subur bernama Eteg.

"Sekarang hanya tersisa empat keluarga kita. Besok jangan ada lagi yang bersuara ketika ada mahluk bernama manusia melakukan suatu hal di sini. Kita tetap pada diam." Seru Komandan Tokek.

"Siap, Komandan." Serentak si Tokok, Ukkek, dan Eteg kompak mengiyakan.

...


Hari kelima paska satu persatu tokek mati terbunuh secara misterius. Datang dua anak kecil mengasong koran. Ia rebahkan tubuh pada lembaran kardus di bangunan tua ini. Anak kecil yang satu sesenggukan. Yang lebih besar satunya menimpali.

"Kuat, Nang. Kalau bisamu nangis, mana mungkin nanti jadi sarjana?"

"Yono ndak mau jadi sarjana, Yono milih beli tahu dan arem-arem saja dari pada nabung untuk sekolah." Timpal anak yang lebih kecil.

Komandan Tokek sedang tak ada di tempat. Tokok, Ukkek, dan si Eteg tidak berani bersuara barang sebisikpun. Dipikirannya bersuara hanya akan mati serupa teman-temannya yang telah mendahulu.

Si Eteg ini kendati banyak makan, ia sangat sensitif. Air matanya mengalir terharu melihat anak kecil yang malang itu.

"Setan si orang tuanya ini. Membiarkan anaknya berjualan koran. Tak merasakan sekolah." Maki Si Eteg.

"Ssssst... Jangan keras-keras kau, Teg! Tak ingat apa? Kemarin Otok, Okek, dan Tuk-Tuk mati gegara berisik saat ada manusia sibuk dengan kehidupannya." Nasihat si Ukkek.

Dua anak kecil itu kembali saling berangkul.

"Apakah semua sarjana dulunya tidak boleh membeli arem-arem dan tahu, Kang? Yono lapar."

"Penuhi perutmu dengan air putih ini, Nang. Calon sarjana harus kreatif. Itu kata Bapak." Ujar sang Kakak.

"Tapi Bapak bohong. Buktinya Bapak tidak jadi sarjana, padahal dulu Bapak mencontohkan kita banyak minum air saat mau makan. Biar ndak butuh makan banyak dan cepat kenyang." Bantah sang Adik.

"Sudahlah, Nang! Bapak belum sempat jadi sarjana. Bapak lebih dulu dipanggil-Nya. Berarti Tuhan ingin cepat-cepat bertemu dengan Bapak di surga."

"Kalau Yono bisa enak disurga tanpa harus jadi sarjana dulu, mengapa Kang Arul ingin sekali Yono sekolah? Sedang Kang sendiri ndak sekolah."

"Kamu ini ngoceh terus, Yon. Itu yang membuatmu tambah lapar. Kita istirahat dulu. Jangan lupa minum yang banyak sebelum kita ngasong lagi."

.....


Si Eteg tak tahan lagi, ia menangis kencang. seperti itulah bunyi tokek. Dalam kondisi apapun sama.

"Tokk Keeek.... Tokk Keeek..." Pada telinga manusia, itulah nada monoton dari bangsa tokek. Meski sesama tokek bisa membaca bahasa yang lain.

"Alamak si Eteeeggggggg... Kelepasan lagi, kan? Saya ndak ingin kamu mati setelah berbisik melihat kehidupan manusia." Si Ukkek kembali menasihati kawannya.

"Biar saja, ini sangat menyedihkan. Mati mengenaskan tak apa-apa jika menuntaskan hasrat teriak karena tak tahan dengan derita anak kecil itu."

Ukkek dan Tokok diam menghela nafas. Ia paham apa yang akan terjadi. Sebentar lagi Eteg akan mati menyusul teman-temannya. Sungguh, Ukkek dan Tokok sepertinya hendak menyiapkan salam perpisahan pada kawannya yang akan mati ini.

"Kira-kira Komandan harus tahu atau tidak ya?" Tanya si Tokok pada Ukkek.

"Nanti Komandan pasti marah! Ia akan menyalahkan kita juga karena tak mengingatkan si Eteg yang terlanjur bersuara nyaring melihat polah kehidupan manusia itu."

"Betul juga, jadi kita harus diam?"

"Sepertinya begitu."

.....


Komandan datang, Eteg, Ukkek dan Tokok diam seribu bahasa. Komandan membaca keanehan pada ketiganya.

"Aman?"

"Aaaa Aaa Aman. Komandan!" Jawab Tokok.

"Ada manusia melakukan hal yang aneh lagi di sini?" Tanya Komandan Tokek.

"Tiii... Tiii... Tidak, Komandan!" Sahut Ukkek. Sementara si gembul Eteg masih dalam sedu sedannya.

"Kenapa kamu, Eteg?" Komandan mendapati wajah muram pada Eteg.

"Tokk Keeekkkkkkk, Tokk Keeekkkkkkk, Tokk Keeekkkkkkk," Si Eteg tambak keras dengan suaranya. Hingga dijabarkannya satu persatu perbincangan dua anak manusia yang menyedihkan itu.

Ukkek dan Tokok was-was jika Komandan marah. Ini parah, bisa-bisa keempat binatang ini mati karena kerasnya suara Eteg yang keluar serupa teman-temannya tempo hari yang terbunuh.

"Tokk Keeekkkkkkk, Tokk Keeekkkkkkk, Tokk Keeekkkkkkk," Komandan malah ikut berteriak.

"Tokk Keeekkkkkkk, Tokk Keeekkkkkkk, Tokk Keeekkkkkkk," Disusul Tokok mengikuti.

"Apa-apaan ini? Apak kita siap-siap mati?" Tanya Ukkek.

"Tokk Keeekkkkkkk, Tokk Keeekkkkkkk, Tokk Keeekkkkkkk," Si Eteg semakin menjadi-jadi karena merasa Tokok dan Komandan mengikutinya.

Mereka semua berteriak, keras, dan sangat keras, hingga serak.

....


"Kang, aku mendengar suara tokek-tokek bersahutan. Di mana mereka? Tanya Yono.

"Kau kebisingan? Hendak membunuhnya?"

"Di mana tokeknya, Kang?"

"Tapi kau tak hendak membunuhnya. kan?"

Dua anak kecil itu mencari keberadaan suara tokek-tokek tersebut. Entah di celah, entah di lorong, ternyata ketemu. Ada tangga kecil menuju dekat atap.

"Kang... Tokek empat, besar-besar. Yang satu paling besar."

"Kau tak hendak membunuhnya kan, Nang?"

Kawanan tokek itu ketakutan. Tapi mereka tak seratus persen yakin jasadnya akan terbunuh oleh dua anak manusia ini. Meskipun, mati sudah dipersiapkan karena melihat kejadian serupa hari-hari yang lalu para tokek mati usai bersuara keras.

"Sayangnya tokek ini haram dimakan ya, Kang. Kalau tidak, kita bisa menyate-nya. Yono jadinjya tak kelaparan."

"Huss..." Jawab sang Kakak.
....


Para tokek berpesta, nyamuk di sini sangat banyak untuk santapan. Esok hari, mereka sungguh rela mati jika itu untuk mengenyangkan perut anak kecil yang malang. Tapi berganti sehari, dua hari, tiga hari, tokek-tokek itu tak juga terbunuh oleh si anak.

"Bukankah hidup adalah hal yang kita inginkan?" Tanya Komandan Tokek.

"Iya, Komandan. Tapi esok hari kalau kematianku karena disate dua anak kecil itu, sungguh aku tak keberatan jika itu menyambung hidup nyawa mereka." Balas Eteg.

"Ya, kita hanya beruntung. Suara bising kita didengarkan pada si anak-anak itu. Tak seperti kawan-kawan kita yang telah mati. Otok terbunuh setelah berbunyi keras saat melihat mobil berplat merah berhenti di gedung tua ini. Penumpang nya seorang berdasi dan perempuan cantik. Mereka melakukan hubungan badan, Otok berteriak keras kemudian dilempar batu oleh si lelaki." Jelas si Komandan.

Terlihat Ukkek, Tokok, dan Eteg menyimak seksama.

"Okek juga demikian. Tubuhnya terpental ke bibir sungai ketika berteriak mendapati anak berseragam abu-abu menyumat lintingan zat aneh, lalu sakau, sementara disampingnya beberapa pria dengan rakus melahap tubuh gadis berbaju putih abu-abu itu." Lanjut Komandan.

"Sama nasibnya Tuk-tuk. Mati mengenaskan dilempar manusia yang bertransaksi barang aneh berjumlah satu koper. Tuk-tuk melihat dan berteriak keras. Kemudian lemparan batu besar melesat pada tubuh Tuk-tuk."

Tamat


Kudus, 29 Desember 2019

Oleh : Yani Al Qudsy (Pura-pura penulis, Administrator, dapat dijumpai di https://www.facebook.com/yan.ni.3382

Komentar