Hasan Aoni dan Tsaqiva, Like Father Like Daughter

Artikel Terkait Essay ,




Kita pasti pernah mendengar ungkapan 'Anda memiliki mata, hidung, bibir, atau wajah ayahmu', atau ungkapan 'Like father like son'. Seperti apa yang kita lihat pada ayah, seperti itulah anak.
Melihat lebih dekat keluarga seniman yang kini berdomisili Kudus ini semakin menarik hasrat saya untuk berbagi sedikit coretan tentang Pak Hasan Aoni (Seniman, Penulis, Budayawan, Founder Omah Dongeng Marwah) serta putrinya, Tsaqiva Kinasih Gusti.

Ya, malam itu saya benar-benar bertemu dengan beliau sosok yang menginspirasi saya. Pak Hasan Aoni; berderet dengan narasumber yang lain, ada Pak Iwan Pranoto sekaligus Sekjen Simpul Maiyah Kudus, Gus Syafiq, Gus Hasan Mafiq, dll. Pak Hasan Aoni ialah seorang yang saya anggap guru dalam menggunakan 'sosial media'. Beliau sering membagi pemikiran-pemikirannya dalam bentuk tulisan singkat lewat beranda facebook-nya yang saya ikuti.

Kalau dikatakan, beliau ini guru dalam membagi nilai-nilai kehidupan lewat tulisan dalam postingannya yang santai, renyah dan tidak bosan ketika membaca. Beliau adalah guru literasi.

Malam yang diguyur hujan, lengkap kehangatan ketika sajian musik yang indah mengalun olleh putri cantiknya bernama Tsaqiva Kinasih Gusti. Dara manis yang pernah masuk di channel TV nasional (Metro TV) atas karya filmnya yang bertajuk Mata Jiwa.

Speechless rasanya malam itu dapat memetik langsung secara live pemikiran-pemikiran Pak Hasan Aoni mengenai 'Sinergitas' yang pada malam itu beliau hadir di majelis Semak Tadabburan, sebuah majlis sinau bareng para Sedulur Maiyah Kudus (SEMAK) di halaman Museum Kretek (11/01). Banyak sekali yang saya rekam dalam pemahaman, mengenai sinergitas dalam artian 'Kebaikanku, adalah apa yang kubagi kepadamu. Kekuranganku, akan kau tutupi dengan kebaikanmu'. Kiranya seperti itu yang kita butuhkan di saat sekarang banyak orang cenderung mencari titik kelemahan orang lain untuk motif kepentingan pribadi. 

Yang saya tangkap dari Pak hasan Aoni dalam mendidik Tsaqiva adalah 'demokrasi'. Bahwa baginya anak bebas dengan mimpi-mimpinya apapun itu asal positif. Membiarkan anak menuangkan ide-idenya hingga saya rasa tak mustahil seorang Tsaqiva adalah produk dari kehangatan didikan yang egaliter dan hangat.

Sebuah pemandangan akrab ketika Pak Hasan Aoni merekomendasian lagu di youtube yang malam itu menjadi sebuah referensi terkait apa yang beliau sampaikan mengenai frekuensi nada yang ditata sedemikian rupa hingga bisa mempengaruhi pikiran seseorang. Dengan santai Pak Hasan Aoni meminta Tsaqiva turut ke depan ketika semula duduk di deretan jama'ah lain.

Kembali pada 'Like Father Like Daughter', Teori psikologi tentang gen seorang ayah yang diturunkan pada anaknya ini juga bukan faktor utama tterbentuknya seorang anak. Saya lihat Tsaqiva adalah seorang pembelajar yang ulet. Pada sebuah majelis sinau itu, sebuah buku catatan kecil sigap ia siapkan dengan bulpen untuk meringkas apa yang ia tangkap. Karena memang, untuk menyerap suatu pemahaman atau ilmu baru, telinga atau pendengaran kita memiliki keterbatasan untuk mengingat kembali di waktu yang berbeda. Sungguh saya salut pada dara cantik ini yang tak sungkan menulis ketika banyak jamaah sedang fokus mendengarkan intisari dari para narasumber. 

Ayahnya penginspirasi, anaknya pembelajar yang sekaligus penginspirasi, paket lengkap sebuah keluarga yang hangat. Tentunya di belakang itu ada seorang istri, dan ibu yang hebat pula.

Oleh : Yani Al Qudsy, Administrator Akar Ranting Daun



Komentar