Artikel Terkait Puisi ,
Pesan Untuk Riani
Apa kabar, Riani?!
Setelah angin mengadu pada rindu
Tentang kabar kujamah rumahmu
Semoga kau baik-baik saja
Temu siang itu, undang banyak mata-mata
Mungkin mereka kira ini drama Ramayana
Kau Sinta dan aku Rama
Konyol bukan?
Jangan peduli omong kosong teman-temanmu
tetangga-tetanggamu
musuh-musuhmu
Itu hanya sebatas bunyi kambing kelaparan
di samping kita lakukan perbincangan
Aku adalah aku tanpa panah dan kuda
Sedang kau adalah kau tanpa sekap di Argasoka
Jikalau pun benar adanya
Mereka jadi apa?
Rahwana masih lebih baik dari itu
Kau setuju?
Mari satukan langkah kita
Pijak anak tangga bersama
Selalu ingat diperjalanan nanti:
Aku punya banyak teman dekat
Kau bukan diantaranya
Kau teman hidup!
Tanam kata-kataku
Tumbuhkan pada ladang hati
Jaga-sirami; jangan sampai mati
Baiklah Riani,
Kupenggal cerita ini
Beritakan pada Bapa-Ibumu
Aku akan kembali
Untuk meminang anaknya
B E R M A H A R
P U I S I
Pemalang, 12 Desember 2019
Luka Serius
Darah deras mengaliri setiap lekuk wajah
Tetes air mata tak henti-henti
hujam dataran gersang
Anak-anak tak pernah jadi anak-anak
Mereka lahir sebagai prajurit Tuhan
Di mana mata para petinggi
dan rekan-rekan elite lainya?
Sehingga tiada terlihat;
pasir jadi merah, bau anyir darah
Sampai kapan kan kita tunggu?
Sedang kita lapar, haus tanpa beras
Dalam kendi-kendi penyimpanan
Luka palestina; luka paling serius
Setiap hari nawa digadai dengan peluru
Senapan kejam antar sukma
Bersemayam tenang di istana Tuhan
Dusun Kidul, 5 Januari 2019
4 Januari
kala itu, gerimis mengemis hujan
Halangi langkah demi langkah menuju rumahmu
Sejenak kulihat langit mendung
Awan terbaring lemas; murung
Kabut datang selimuti angin dan teman-temannya
Tiada ragu kutembus rapal dingin rintik air
Menjamah wajah yang sudah lama kurindu
Cium semerbak wangi parfum di tubuh itu
Dalam dekap hangat kedua tanganmu
Marka jalan jadi saksi
Aku dan kau rajah janji
Hidup bersama tanpa gores luka
Ruang tamu hampa orang ketiga
Sabtu, 4 januari
Lereng bukit Tangkeban tersenyum
Lihat dua anak cucu Adam
Memadu kasih merangkai kisah
Lari dari sunyi
dan beberapa sebab elegi
Siapa bisa hentikan amuk rasa
Setelah teguk racun asmara?
Bukit Tangkeban, 4 Januari 2020
Untuk Kawanku
Wahai Kawanku
Perajah kata-penulis cerita
Seberapa bangga ketika karyamu tayang di KOMPAS?
Lalu apa yang diangkat dalam sajak-kalimat narasimu?
Cinta?
Senja?
Hanya itu?
Saudarasaudaraku di kolong jembatan
trotoar
bantaran sungai
Butuh kepedulian
Siapa bisa masuk dengan cerita kusam mereka?
Sedang semua sibuk dengan drama
uang
dan perut masingmasing
Siapa pernah menulis di koran TEMPO?
Banggakah?
Bapak-ibu
gelandangan
minum air sungai tercemar
Itu topiknya?
Dalam harap kawanku
Dalam harap
Pemalang, 24 Desember 2019
Sepanjang Jalan Moga-Pulosari
Ada yang tak sempat kujadikan puisi
Ia ditolak diksi,larik,paragraf sebelum sampai wajah kertas
Apa itu?; Cerita kita sepanjang jalan Moga-Pulosari
Kini masih tercecer kisah hidup yang kau sampaikan
di atas gelinding ban motor menyetubuhi marka jalan
Senda gurau setiap jengkal menuju rumahmu tanpa peduli orang lalu lalang
Dalam diam tanpa kau sadari pundak siap jamu dagu itu
Dagu yang kian dekat-mendekat namun tak lekas bertamu
Hanya merayu depan pintu
Jalan Moga-Pulosari masih sering kulewati
Ingatan demi ingatan tak lekas lenyap
Kata-kata kusam berdebu dari pucat bibirmu
Selalu terngiang di telinga
Gores luka pada dinding hati
Tempat lumut-lumut rindu berbiak
Bungkam masa depan; tak boleh teriak
Entah sampai kapan kenangan rampas kebahagiaan
Moga-Pulosari, 2019
Setangkai Mawar
Maaf sayang
Tiada lagi sapa mawar di jendela saat fajar datang
bungabunga di taman bahkan taman sudah lenyap
Jadi gedung diskusi para petinggi
Kupukupu menggelandang kusam
Berbaur dengan polusi udara kota
Tinggal tunggu kematian menjemput
Kapan saja
di mana saja
Tapi bukan di surga putik-benang sari
Terhampar seperti dulu
Jika masih tersisa
Setangkai saja; mawar
Kan kuletakan di bawah bantal
Tempat kau tidur
Agar mimpi terus wangi
di tengah mulut kotor sibuk meracau
[JANJI dan JANJI]
Jangan biar mimpi kita berdebu
dan begitu saja berlalu
Maaf sayang
Jika sampai tanah rantau
Telan tubuh ini
Mawar itu tak ada di jendela kamarmu
Jangan biar air mata jatuh
Tak kan ada yang peduli
Orangorang sibuk dengan perut
Masingmasing
Tidurlah
Pergilah
kenegeri di mana
semua jadi nyata
M I M P I K I T A
Pemalang, 26 Desember
Pengaduan
Izinkan aku mengadu
Padamu; wakil-wakilku
Tentang nasib mlarat
Susah hidup tanpa kerja
Hanya ijasah hias bilik bambu
Pada tangan-pundak-mulutmu
Lama kutitip suara
Untuk dibawa ketelaga
Tempat air jernih-segar di minum
Tanah subur tanami padi
Bukan besi sekadar investasi
Izinkan aku mengadu
Padamu; pilihanku
Rumah kami
digusur atas dasar ketertiban
Hilang sudah kemanusiaan
Jadi tai habis keluar dari pantat
Cecungukcecunguk banci
Aduanku jangan kau tepis
Tanganku jangan kau iris
Wangi bajuku jangan kau buat amis
Keluargaku jangan buat jadi pengemis
Terimalah...
Rumah Hujan, 27 Desember 2019
Harapan Tahun Baru
Ada harap tahun baru
tak seperti tahun-tahun lalu
di mana luka bebas berbiak
Antara rindu dan namamu
Rintih disela rekahan tanah kering
meminta air mata kembali guyur
Tubuh mungil nan seksi
Sama seperti Desember duka
Hilang di terpa kembang api Januari
Siremeng, 31 Desember 2019
Cerita 7 Hari
Hari senin kan terlaksana upacara penindasan besar besaran
Petani rugi; sawah
ladang
padi
sayur mayur
lenyap jadi upeti
Nelayan tak bisa pancing ikan di laut berminyak
dan terumbu karang rusak hias ruang tamu konglomerat
Anak-anak susah beli buku, pensil, penggaris
di tengah riuh riang tawa sekolah gratis
Kunci mulut jika ingin selamat
Simpan saja suara
Jangan biar keluar
Tahan sekuat tenaga
Seperti media bungkam dari sebenar-benarnya berita
Demi nama dan sumbang dana sponsornya
Hari selasa, saat baru bersih luka-luka
Cuci air mengalir hanyutkan darah
di dada di punggung di tangan
di dalam rasa kehilangan buah hati kesayangan
Senjata laras panjang kembali todong
Jidat orang-orang kampung
Bela hak rumah yang sudah tinggal tanah
Pada siapa keluh kan diteriakan
Jika semua lebih patuh pada kekuasaan modal
Rabu dan kamis; Hari-hari ramai akan tangis
Luas tanah kosong bekas gusur rumah warga
Terhampar hampa
Hanya mayat tanpa nama
Muka merah bercampur bau anyir darah
Telentang hadap matahari, sebab matahati tak ada lagi
Hari jumat,
setelah yasin berkumandang dengan khidmat
Henti sejenak bunyi pistol dan granat
Tinggal hutan hilang dilalap dompet investor
Pohonya,
babinya
padang rumputnya
Jelma deru mesin-mesin pabrik
Lubang galian tambang
Luas jadi kubangan lumpur
Tempat mandi dewa juga selir-selirnya
Sabtu-minggu
Dengar!
Gonggong perut keras samai lolong anjing di trotoar jalan
menuju gedung kantor tempat rapat palsu
Doa terus di rapal ibu gendong bayi kurang gizi
Tak mampu beli bubur dan susu
Dandang kan terus nanak nasi atas mulut perajah janji
Jika para pelajar hanya baca buku-buku pelajaran
Memikirkan diri sendiri
Tanpa mau jumpa saudara-saudara pinggir kota
Mengais-mencari makan dari sampah terbuang
Pedagang kaki lima teraniaya
Lapak direbut paksa
Tanpa solusi keberlangsungan hidup keluarganya
Adakah sedikit kepedulian untuk mereka; kawanku?
Dengan coret tinta bertahun-tahun di atas meja
Berseragam dengan segala biaya
Jika sampai malaikat maut dendangkan lagu pulang
Ubun Ayah-Ibuku masih jadi tempat kursi
Duduk santai para partai
Tunggu saja kelak datang kembali seorang pujangga
Hujam tembok penghalang
Nada gitar dan puisi kaum-kaum kusam
Memburu hewan peliharaan istana hingga musnah
Moga, 03 Januari 2020
Sajak Wasiat
Jika sampai ajal
Memasang rambu-rambu di sekeliling rumah
dan orang-orang mulai makan, minum
Sebagai imbalan rapal doa palsu
Puisi tak terjamah oleh mata
Bapa-ibu-saudaraku
Beritakan sajak wasiat ini pada mereka
Sebagai satu-satunya jiwa yang pernah dilihat
Biar bumi telan tubuh dan hati rapuh
Sebagai tanda ada yang harus baca tinggalanku
Mungkin akan bosan setelah berulang-ulang
Tak apa, baca saja
Jazad kan hilang dimakan belatung
Jadi hidangan spesial cacing tanah
Ayah...
Ibu...
Aku anakmu...
Dusun Kidul, 1 Januari 2020
Biodata Penulis
RM. Maulana Khoerun, lahir di Pemalang pada 18 Maret 2002. Ia gemar menulis puisi sejak duduk dibangku Sekolah Dasar dan mulai menekuninya pada Sekolah menengah Atas. Sekarang ia sedang mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 MOGA. Salah satu pendiri grup literasi RASI PENA. Puisinya juga sudah tayang di berbagai media, dianganranya Bangka pos, Radar Cirebon,Takanta dan Buletin Lentera Bayuangga Probolinggo.
Facebook : RM Maulana Khoerun

Komentar
Posting Komentar