Puisi-puisi RM. Maulana Khoerun; Pesan untuk Riani

Artikel Terkait Puisi ,





Pesan Untuk Riani

Apa kabar, Riani?!
Setelah angin mengadu pada rindu
Tentang kabar  kujamah rumahmu
Semoga kau baik-baik saja

Temu siang itu, undang banyak mata-mata
Mungkin mereka kira ini drama Ramayana
Kau Sinta dan aku Rama
Konyol bukan?

Jangan peduli omong   kosong teman-temanmu
tetangga-tetanggamu
musuh-musuhmu
Itu hanya sebatas bunyi kambing kelaparan
di samping kita lakukan perbincangan
Aku adalah aku tanpa panah dan kuda
Sedang kau adalah kau tanpa sekap di Argasoka

Jikalau pun benar adanya
Mereka jadi apa?
Rahwana masih lebih baik dari itu
Kau setuju?

Mari satukan  langkah kita
Pijak anak tangga bersama
Selalu ingat diperjalanan nanti:
 Aku punya banyak teman dekat
 Kau bukan diantaranya
 Kau teman hidup!
 Tanam kata-kataku
 Tumbuhkan pada ladang hati
 Jaga-sirami; jangan sampai mati

Baiklah Riani,
Kupenggal cerita ini
Beritakan pada Bapa-Ibumu
Aku akan kembali
Untuk   meminang  anaknya
       B E R M A H A R
              P U I S I

Pemalang, 12 Desember 2019


Luka Serius

Darah deras mengaliri setiap lekuk wajah
Tetes air mata tak henti-henti
hujam dataran gersang
Anak-anak tak pernah jadi anak-anak
Mereka lahir sebagai prajurit Tuhan

Di mana mata para petinggi
dan rekan-rekan elite lainya?
Sehingga tiada terlihat;
pasir jadi merah, bau anyir darah

Sampai kapan kan kita tunggu?
Sedang kita lapar, haus tanpa beras
Dalam kendi-kendi penyimpanan

 Luka palestina; luka paling serius
Setiap hari nawa digadai dengan peluru
Senapan kejam antar sukma
Bersemayam tenang di istana Tuhan

Dusun Kidul, 5 Januari 2019


4 Januari

kala itu, gerimis mengemis hujan
Halangi langkah demi langkah menuju rumahmu
Sejenak kulihat langit mendung
Awan terbaring lemas; murung
Kabut datang selimuti angin dan teman-temannya

Tiada ragu kutembus rapal dingin rintik air
Menjamah wajah yang sudah lama kurindu
Cium semerbak wangi parfum di tubuh itu
Dalam dekap hangat kedua tanganmu

Marka jalan jadi saksi
Aku dan kau rajah janji
Hidup bersama tanpa gores luka
Ruang tamu hampa orang ketiga

Sabtu, 4 januari
Lereng bukit Tangkeban tersenyum
Lihat dua anak cucu Adam
Memadu kasih merangkai kisah
Lari dari sunyi
dan beberapa sebab elegi

Siapa bisa hentikan amuk rasa
Setelah teguk racun asmara?

Bukit Tangkeban, 4 Januari 2020




Untuk Kawanku

Wahai Kawanku
Perajah kata-penulis cerita
Seberapa bangga ketika karyamu tayang di KOMPAS?
Lalu apa yang diangkat dalam sajak-kalimat narasimu?
Cinta?
Senja?
Hanya itu?

Saudarasaudaraku di kolong jembatan
trotoar
bantaran sungai
Butuh kepedulian
Siapa bisa masuk dengan cerita kusam mereka?
Sedang semua sibuk dengan drama
uang
dan perut masingmasing

Siapa pernah menulis di koran TEMPO?
Banggakah?
Bapak-ibu
gelandangan
minum air sungai tercemar
Itu topiknya?
Dalam harap kawanku
Dalam harap
Pemalang, 24 Desember 2019



Sepanjang Jalan Moga-Pulosari

Ada yang tak sempat kujadikan puisi
Ia ditolak diksi,larik,paragraf sebelum sampai wajah kertas
Apa itu?; Cerita kita sepanjang jalan Moga-Pulosari

Kini masih tercecer kisah hidup yang kau sampaikan
di atas gelinding ban motor menyetubuhi marka jalan
Senda gurau setiap jengkal menuju rumahmu tanpa peduli orang lalu lalang
Dalam diam tanpa kau sadari pundak siap jamu dagu itu
Dagu yang kian dekat-mendekat namun tak lekas bertamu
Hanya merayu depan pintu

Jalan Moga-Pulosari  masih sering kulewati
Ingatan demi ingatan tak lekas lenyap
Kata-kata kusam berdebu dari pucat bibirmu
Selalu terngiang di telinga
Gores luka pada dinding hati
Tempat lumut-lumut rindu berbiak
Bungkam masa depan; tak boleh teriak
Entah sampai kapan kenangan rampas kebahagiaan

Moga-Pulosari, 2019


Setangkai Mawar

Maaf sayang
Tiada lagi sapa mawar di jendela saat fajar datang
bungabunga di taman bahkan taman sudah lenyap
Jadi gedung diskusi para petinggi

Kupukupu menggelandang kusam
Berbaur dengan polusi udara kota
Tinggal tunggu   kematian menjemput
Kapan saja
di mana saja
Tapi bukan di surga putik-benang sari
Terhampar seperti dulu

Jika masih tersisa
Setangkai saja; mawar
Kan kuletakan di bawah bantal
Tempat kau  tidur
Agar mimpi terus wangi
di tengah mulut kotor sibuk meracau
 [JANJI dan JANJI]
Jangan biar mimpi kita berdebu
dan begitu saja berlalu

 Maaf sayang
Jika sampai tanah rantau
Telan tubuh ini
Mawar itu tak ada di jendela kamarmu
Jangan biar air mata jatuh
Tak kan ada yang peduli
Orangorang sibuk dengan perut
Masingmasing

Tidurlah
Pergilah
kenegeri di mana
semua jadi nyata
M I M P I  K I T A

Pemalang, 26 Desember



Pengaduan

Izinkan aku mengadu
Padamu; wakil-wakilku
Tentang nasib mlarat
Susah hidup tanpa kerja
Hanya ijasah hias bilik bambu

Pada tangan-pundak-mulutmu
Lama kutitip suara
Untuk dibawa ketelaga
Tempat air jernih-segar di minum
Tanah subur tanami padi
Bukan besi sekadar investasi

Izinkan aku mengadu
Padamu; pilihanku
Rumah kami
digusur atas dasar ketertiban
Hilang sudah kemanusiaan
Jadi tai habis keluar dari pantat
Cecungukcecunguk banci

Aduanku jangan kau tepis
Tanganku jangan kau iris
Wangi bajuku jangan kau buat amis
Keluargaku jangan buat jadi pengemis
Terimalah...

Rumah Hujan, 27 Desember 2019




Harapan Tahun Baru

Ada harap tahun baru
tak seperti tahun-tahun lalu
di mana luka bebas berbiak
Antara rindu dan namamu
Rintih disela rekahan tanah kering
meminta air mata kembali guyur
Tubuh mungil nan seksi
Sama seperti Desember duka
Hilang di terpa kembang api Januari

Siremeng, 31 Desember 2019




Cerita 7 Hari

Hari senin kan terlaksana upacara penindasan besar besaran
Petani rugi; sawah
ladang
padi
sayur mayur
lenyap jadi upeti
Nelayan tak bisa pancing ikan di laut berminyak
dan terumbu karang rusak hias ruang tamu konglomerat
Anak-anak susah beli buku, pensil, penggaris
di tengah riuh riang tawa sekolah gratis
Kunci mulut jika ingin selamat
Simpan saja suara
Jangan biar keluar
Tahan sekuat tenaga
Seperti media bungkam dari sebenar-benarnya berita
Demi nama dan sumbang dana sponsornya

Hari selasa, saat baru bersih luka-luka
Cuci air mengalir hanyutkan darah
di dada di punggung  di tangan
di dalam rasa kehilangan  buah hati kesayangan
Senjata laras panjang kembali todong
Jidat orang-orang kampung
Bela hak rumah yang sudah tinggal tanah
Pada siapa keluh kan diteriakan
Jika semua lebih patuh pada kekuasaan modal

Rabu dan kamis; Hari-hari ramai akan tangis
Luas tanah kosong bekas gusur rumah warga
Terhampar hampa
Hanya mayat tanpa nama
 Muka merah bercampur bau anyir darah
Telentang hadap matahari, sebab matahati tak ada lagi

Hari jumat,
setelah yasin berkumandang dengan khidmat
Henti sejenak bunyi pistol dan granat
Tinggal hutan hilang dilalap dompet investor
Pohonya,
babinya
padang rumputnya
Jelma deru mesin-mesin pabrik
Lubang galian tambang
Luas jadi kubangan lumpur
Tempat mandi dewa juga selir-selirnya

Sabtu-minggu
Dengar!
Gonggong perut keras samai lolong anjing di trotoar jalan
menuju gedung kantor  tempat rapat palsu
Doa terus di rapal ibu gendong bayi kurang gizi
Tak mampu beli bubur dan susu
Dandang kan terus nanak nasi atas mulut perajah janji
Jika para pelajar hanya baca buku-buku pelajaran
Memikirkan diri sendiri
Tanpa mau jumpa saudara-saudara pinggir kota
Mengais-mencari makan dari sampah terbuang
Pedagang kaki lima teraniaya
Lapak direbut paksa
Tanpa solusi keberlangsungan hidup keluarganya

Adakah sedikit kepedulian untuk mereka; kawanku?
Dengan coret tinta bertahun-tahun di atas meja
Berseragam dengan segala biaya

Jika sampai malaikat maut dendangkan lagu pulang
Ubun Ayah-Ibuku masih jadi tempat kursi
Duduk santai para partai
Tunggu saja kelak datang kembali seorang pujangga
Hujam tembok penghalang
Nada gitar dan puisi kaum-kaum kusam
Memburu hewan peliharaan istana hingga musnah

Moga, 03 Januari 2020




Sajak Wasiat

Jika sampai ajal
Memasang rambu-rambu di sekeliling rumah
dan orang-orang mulai makan, minum
Sebagai imbalan rapal doa palsu
Puisi tak terjamah oleh mata
Bapa-ibu-saudaraku
Beritakan sajak wasiat ini pada mereka
Sebagai satu-satunya jiwa yang pernah dilihat

Biar bumi telan tubuh dan hati rapuh
Sebagai tanda ada yang harus baca tinggalanku
Mungkin akan bosan setelah berulang-ulang
Tak apa, baca saja

Jazad kan hilang dimakan belatung
Jadi hidangan spesial cacing tanah
Ayah...
Ibu...
Aku anakmu...
Dusun Kidul, 1 Januari 2020




Biodata Penulis




RM. Maulana Khoerun, lahir di Pemalang pada 18 Maret 2002. Ia gemar menulis puisi sejak duduk dibangku Sekolah Dasar dan mulai menekuninya pada Sekolah menengah Atas. Sekarang ia sedang mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 MOGA. Salah satu pendiri grup literasi RASI PENA. Puisinya juga sudah tayang di berbagai media, dianganranya Bangka pos, Radar Cirebon,Takanta dan Buletin Lentera Bayuangga Probolinggo.
Facebook   RM Maulana Khoerun


Komentar