Artikel Terkait Puisi ,
Sejak sore itu
Di hampir tengah malam yang
temaram
Di pinggir kota makasar, kusua penuh debar.
Di pinggir kota makasar, kusua penuh debar.
Kutemukan pernak pernik menarik
di sini
Kucatat, di sela sela setiap lapis kerinduan hati
Yang bakal kuurai kembali
Kelak...
Bila waktu tak menolak.
Kucatat, di sela sela setiap lapis kerinduan hati
Yang bakal kuurai kembali
Kelak...
Bila waktu tak menolak.
Aku tak mau manghayalkan...
Karna pasti, kan terasa indah dalam kenyataan.
Karna pasti, kan terasa indah dalam kenyataan.
Tetaplah kau menanti
Menanti dan menanti
Sampai kedua belah tangan ini
Kembali, memeluki.
Menanti dan menanti
Sampai kedua belah tangan ini
Kembali, memeluki.
01:24 WITA
Makasar, 20 Agustus 2019
Berpamit
nampak sang rembulan kian temaram
bagai kesakitan mengerang di sepanjang malam
matahari pun seolah hendak berpamit
tak tega menyaksikan bumi yg kian menjerit.
bagai kesakitan mengerang di sepanjang malam
matahari pun seolah hendak berpamit
tak tega menyaksikan bumi yg kian menjerit.
entahlah....
antara air dan api tak lagi pedulikah?
antara air dan api tak lagi pedulikah?
15 Oktober 2019
TUWA
kami adalah pohon yang tak lagi
memiliki rimbun daun
yang kulit serta ranting rantingnya telah kaku dan mulai mengering
di sepanjang waktu senantiasa menyeduh getir rasa kedalam ceruk senyum
menghayati bagian organ yang melunglai dan jatuh terbaring ditiup angin.
yang kulit serta ranting rantingnya telah kaku dan mulai mengering
di sepanjang waktu senantiasa menyeduh getir rasa kedalam ceruk senyum
menghayati bagian organ yang melunglai dan jatuh terbaring ditiup angin.
biarlah kami tetap bersiaga
dengan daya yang semakin mereda
untuk bisa sesekali melepaskan gelembung gelembung udara
atau sebagai peneduh dengan sisa sisa daun menjelang runtuh
dan menjadi sandaran bagi tubuh tubuh yang penuh peluh.
untuk bisa sesekali melepaskan gelembung gelembung udara
atau sebagai peneduh dengan sisa sisa daun menjelang runtuh
dan menjadi sandaran bagi tubuh tubuh yang penuh peluh.
tak mengapa diabaikan,bila
dianggap tiada guna
yang kami lakukan sekedar menulis kalimat kalimat cinta tanpa suara
sebatas menorehkan garis garis dinamis yang tak terbaca
dan semua kami goreskan dengan sisa air keringat sebagai tintanya.
yang kami lakukan sekedar menulis kalimat kalimat cinta tanpa suara
sebatas menorehkan garis garis dinamis yang tak terbaca
dan semua kami goreskan dengan sisa air keringat sebagai tintanya.
kami adalah tubuh tubuh yang
renta
berjalan dan berbicarapun terbata bata.
berjalan dan berbicarapun terbata bata.
Kudus, 21 Maret 2019
JALAN CINTA
bagaimana
bisa kukekalkan namamu
di setiap hembus nafasku
di setiap detak jantungku
di seluruh aliran darahku
di sepanjang jalan fikiranku
sedang tuk merayumu
aku masih memilih waktu.
di setiap hembus nafasku
di setiap detak jantungku
di seluruh aliran darahku
di sepanjang jalan fikiranku
sedang tuk merayumu
aku masih memilih waktu.
mungkinkah pijarku kan memancar
bagai kilat membelah awan,tajam tiada pudar
sedang di pembaringanmu tiap kali berebah
masihku berbantal, berenda merah.
bagai kilat membelah awan,tajam tiada pudar
sedang di pembaringanmu tiap kali berebah
masihku berbantal, berenda merah.
semestinya
bisa kubaca batu dan tanah selayaknya buku
semestinya mampu kujaring desing angin membising
agar tak berpaku pada tasbih nan beku
yang berputar atas namamu,dingin di malam hening.
semestinya mampu kujaring desing angin membising
agar tak berpaku pada tasbih nan beku
yang berputar atas namamu,dingin di malam hening.
11:10 WIB
Kudus. 12
Maret 2019
Dirgo Utomo, lahir di Kudus, 29 Agustus 1969. Tinggal
di Undaan Tengah, Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus. Selain menulis puisi, semasa muda
juga aktif mengikuti berbagai event lomba baca puisi. Kini kesehariannya
bekerja sebagai pembuat taman dan perupa. Sesekali menyempatkan menulis puisi
di beranda facebook sebagai pelepas rindu pada puisi, anak dan istri tercinta.
Dapat disapa melalui akun media sosialnya, FB : https://www.facebook.com/mbah.utm


Komentar
Posting Komentar