Sastra Kudus Zaman Semo(now) dalam Sebuah Diskusi

Artikel Terkait Essay ,



Sebuah karya sastra seharusnya bisa menjadi cerminan zaman, representasi keadaan dan mewakili masyarakat terhadap apa yang terjadi.
Bagi para sastrawan, sangat bisa merasakan perbedaan antara sastra zaman dahulu dan sastra masa kini. Dari segi peminat, atau psikologis insan sastra sendiri terkait keresahan-keresahan yang menyertai.

Perubahan kultur sosial dan kemasyarakatan juga membuat karya sastra banyak berubah dan kian diabaikan. Kudus zaman dahulu, diramaikan oleh sastrawan dan penulis yang berkarya pada tahun 1980-an antara lain Sulistiyanto Sw, Alex Achlish, A. Munif Hamid, Toto Yuliadi, I. Yona Aruna Ch, Amir Yahya Pati, Yudhi MS, Aryono KD, Mukti Sutarman Espe, MM Bhoernomo, dan Darmanto Nugroho. Sampai sekarang yang masih memproduksi karya sastra tinggal beberapa, di antaranya MM Bhoernomo, Mukti Sutarman, Yudhi, dan Thomas Budi Santoso.  Gaung sastra setelahnya agak meredup hingga tahun 2000-an.

Meski terlalu prematur bila kita menyebut saat ini adalah ‘Kematian Sastra Kudus’, karena faktanya masih bisa kita nikmati karya sastra semisal tulisan dari penulis-penulis baru di kudus dalam sebuah rumah berujud tajug(dot)net yang bisa kita akses lewat internet. , hanya saja… Zaman dahulu radio turut memeriahkan sastra dengan memberi ruang siaran pada sastrawan. Kita lihat di Radio Swara Manggala Sakti memunculkan program ‘Sastra dan Budaya’ yang diasuh oleh Faried Tommy, dilanjut Dahrul Susanto. Radio Muria Kudus dengan ‘Ladang Sastra’-nya yang mengudara tahun 1983-2000. Majalah kasusasteraan sekarang juga memiliki pangsa pasar yang sedikit dan jarang diminati. Menulis sastra juga bukan hal menjanjikan mengingat predikat sastrawan tak banyak memberi janji soal materi. Apalagi jika membahas tentang hak cipta, sepertinya menjadi momok yang menakutkan bagi insan sastra untuk membukukan karyanya, istilahnya lebih dahulu dihantui oleh pembajakan, atau daya beli yang minim.

Apakah sastra benar-benar memiliki pergeseran? Baik dari kultur kemasyarakatan, maupun peminat atau bahkan pencipta sastra itu sendiri? Tentunya menarik berdiskusi mengenai sastra zaman dahulu hingga sekarang yang tak hanya seputar Chairil Anwar, tokoh sastra nasional yang familiar bagi generasi millennial zaman sekarang, karena lingkup sastra sangat luas di tanah Kudus tercinta ini semisal folklore Nawangsing dan Rinangku yang berani dipentaskan oleh anak-anak ODM tempo lalu, juga tentang destinasi wisata serta kuliner yang sangat cantik jika kita mampu mengawinkan unsur sastra di dalamnya.  Seperti baru-baru ini sebuah buku sastra kumpulan puisi juga diluncurkan oleh Komunitas Gandrung Sastra Undaan (Gatra) yang dikoordinatori seniman muda Mangir Chan dengan memperkenalkan khasanah tanah Kudus bagian Selatan. Sebelumnya ada Kofiku (Komunitas Fiksi Kudus) dengan antologi puisi ‘Kata Kota’, serta para sastrawan kota kretek dengan kumpulan puisi bertajuk ‘Bermula dari Al Quds’.

Tanggal 25 Januari 2020 di Museum Kretek Kudus, sebuah diskusi akan digelar, bertajuk ‘Sastra Zaman Semo(now)’. Membincang dan mendiskusikan sastra dari zaman ke zaman, dari berbagai pemahaman, tentunya melingkar para insan sastra lintas generasi. Ada Pak Mukti Sutarman SP, Jumari HS, Jimat Kalimasadha, MM. Bhoernomo, Rohadi Noor, serta komunitas sastra di Kudus antara lain; ODM (Omah Dongeng Marwah), Kofiku (Komunitas Fiksi Kudus), Gatra (Gandrung Sastra Undaan), Keluarga Berkarya, dan tentunya anda yang ingin hadir dari mana saja. Satu yang membuat kita berbaur dalam jagong sastra kali ini, tentang kepedulian dan kecintaan pada sastra. Dan tentunya akan ada banyak penampilan puisi dalam acara pada Sabtu malam Minggu tersebut.  (Yani Al Qudsy)

Komentar