Tergelitik 'Menggambar Bulan dalam Gendongan'

Artikel Terkait Essay ,







“Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.” Sebuah kutipan John F. Kennedy, mantan presiden Amerika yang pernah saya baca di essay milik Muhajir Arrosyid, M.Pd. yang terbit di Caknun(dot)com April 2018 lalu.
Mungkin tak hanya berkutat pada pembahasan politik saja kita membutuhkan sastra untuk meluruskan sesuatu yang kotor serta bengkok tersebut. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan misalnya.
Penulis Kumpulan Cerpen ‘Menggambar Bulan dalam Gendongan’ yang akrab disapa dengan sebutan Kang Hajir ini begitu apik mengawinkan sebuah karya sastra yang syarat akan gelitikan serta teguran terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan. Dikemas dengan gaya bahasa yang tidak bertele-tele, Dosen Universitas PGRI Semarang ini membidik kehidupan di perkampungan yang sedari kecil melambungkan ingatannya tentang sawah, Lek Pasijo, Mbak Mu, Mbak Jum, dan lain sebagainya. Ingatan yang belum sepenuhnya bisa bergabung dengan kota yang disesaki kafe, kelab malam, lampu jalan yang silau, jalan yang sesak, serta menjulangnya gedung-gedung tinggi.
Nama-nama dari tokoh yang beliau ambil dalam buku kumpulan cerpen ini juga terbilang unik. Bahkan memiliki karakteristik sendiri, kebanyakan saya temui memiliki satu suku kata, seperti; Nal, Sun, Lat, atau Fis. Sepertinya beliau tak ingin terjebak pada lokalitas penggunaan nama tempat mana yang dijadikan latar, dengan nama-nama yang mainstream. Tapi apakah lantas kita tidak mampu merasai latar dan suasana ketika membacanya? Tentu tidak! Saya akan jawab seperti itu karena Kang Hajir begitu piawai dengan kesederhanaan kosa katanya membawa kita ke dalam cerita, seperti dalam kutipan cerpn 'Berdamai dengan Ayam' berikut:

‘Suryat menatap garis-garis merah di langit. Senja kali ini beda. Warna yang muncul bukan oranye seperti biasa melainkan kemerahan. Terdengar daun-daun bambu di belakang rumah bergesekan diterpa angin. Leher suryat semula terasa dingin malah kini menghangat. Suryat merasa kalau peralihan suhu badan dari panas ke dingin secara mendadak adalah firasat. Namun....’

Kutipan di atas adalah bagaimana menekankan 'show', bukan 'tell' dalam menuliskan sebuah cerita hingga kita tidak dihadapkan pada kebosanan dalam membaca. 
Ayah kelahiran tahun 1981 ini juga sangat indah mengemas ending. Kita lihat dalam cerpen ‘Gelengan Kepala”, pembaca diajak untuk berdamai dengan kekecewaan dan sakit hati.
“Masih sakit, Tunu?”
“Pipiku nyeri dan dadaku sesak. Tapi aku bisa makan sendiri kok.”
Aku pura-pura menolak suapannya tapi dia masi tetap menyuapiku. Perutnya benar-benar buncit dan aku ingin sekali memegangnya. []

Adalah sebuah cerita tentang seorang lelaki yang hendak berdamai dengan keadaan 'siapapun itu pria yang menaruh janin dalam perut pujaannya'

Kepiawaian pegiat Maiyah Gambang Syafaat Semarang, Maiyah Kalijagan, serta penulis rubrik di Caknun(dot)com dalam membaca sisi humanisme saya rasakan sekali dalam cerpen ‘Malam Gerimis Seekor Anjing Menyeret Kakinya’.
Hujan semakin deras. Kurap (nama seekor anjing; red) menggigil. Ia menimbang-nimbang menunggu hujan reda. Jika ia lekas lekas sampai, ia bisa menghangatkan tubuhnya di perapian yang dibuat Mbok Jah. Mbok Jah adalah teman manusianya yang paling berperikehewanan....
Saya melarang anda untuk membaca buku ini jika anda adalah pelahap buku sastra. Karena bisa jadi anda begitu ingin membacanya dalam sekali duduk, tak berlama-lama.

(Oleh : Yani Al QUdsy Administrator Akar Ranting Daun)











Komentar