Puisi-puisi Akar Ranting Daun; Ternyata Dewi Renuka

Artikel Terkait Puisi ,





Puisi-puisi Akarrantingdaun oleh ; Administrator

Ternyata Dewi Renuka

kesturi menyeruak rambut
tiap helai menguntai aroma
dari pintu kamar ditangkap indera
wangi sang dewi kibaskan keanggunan
tapi bukan pada Jamadagni

ternyata Renuka
hunus belati pada hati empunya rusuk
Jamadagni dalam kepiluan

ternyata Renuka
yang berlari ke arah Prabu Citrarata atas nafsu gandarwa

ramuan sirih
aroma kasturi
dibungkus, dibawa angin
sampailah pada puja lain pria
Prabu Citrarata

ternyata Renuka
wanitaku serupa Renuka
padaku ia tanamkan bukit bunga
lalu enyah biarkan ranggas
Aku, Jamadagni yang kesakitan
Menunggu mati

Kudus, 05 Agustus 2019

Putih Gading

aku melihat biji-biji kehidupan
semai dalam ladangmu, Sang Dewi
kau membiarkannya tumbuh
meniadakan kealphaan lelakimu ini
untuk sekedar memanen keharuman

kau suguhi merah mawar di dinding kamar
lalu hiasi hijau semanggi
warnai pula kuning akasia
atau percantik dengan anyelir merah jambu

Tapi kau serupa Renuka, Dewiku
kau justru panenkan pula warna putih gading bunga kantil
kenanga
bukankah itu bunga kematian?
lalu kau bangun pusara
biarkan aku lelap di bawahnya

Kudus, 06 Agustus 2019


Ibuku Renuka

sebermula di perutmu
kuhisap saripati yang terhubung plasenta
mengalir tiap sendi, darah, daging, tulang
menjadi sebentuk aku
anakmu
wahai empunya gua garba
Ibuku Renuka
wanita putih yang hamparkan perjalanan
hingga Tuhan letakkan di kakimu apa yang menjadi tujuan akhirku
surga

oh,
ibuku Dewi Renuka
di mana wujud abdi itu?
pada pemilik darah yang menyebar di ragaku
ketika kecintaanmu tak lagi pada satu
lalu apa arti pergumulan pada Bopo yang kemudian lahirkan aku?

oh,
ibuku Dewi Renuka
kukirimkan tempat nyaman sebagai peristirahatan
atas titah Bopo yang tersemat sesak
luka
tangis
darah
kenapa kau layangkan padanya?
Lalu berlari pada dia Citrarata

0h,
Ibuku Dewi Renuka
tanganku yang mengirimkan kematianmu
biarlah surga tak mengarah padaku
asal jangan tangis Bopo atas nafsu gandarwamu

Kudus, 06 Agustus 2019


Ramaparasu

Kau Ramaparasu
yang mengutuki Ibumu, wadon empunya surga
di dadamu kini api
menghunuskan kebencian
menggenggam sekam lalu nyala berkobar

seperti ketika bisikan Bopo-mu Resi Jamadagni
untuk musnahkanku sang Ibumu
kau putraku, Ramaparasu
aku Dewi Renuka
pada mataku telah kau hadiahkan kematian

di kakiku
sang Hyang Agung tak ciptakan lagi surga
Ramaparasu-ku menelan bara
luap kecewa
aku Dewi Renuka yang mendewa selakangan
tak tahu sejati labuhan

terhunus amarah sang putra
dihadiahi kematian berdarah
oleh perintah Jamadagni pada Ramaparasu sang putra
tiada segumpalpun bersalah

Kudus, 06 Agustus 2019


Medan Perang

apa yang lebih ranum dari tentara taklukkan panah sang lawan?
dengan busur memeluk tanah
lalu diam rebah bermandi darah

apa yang lebih patut dirayakan serupa kemenangan Prabu Citrarata?
memboyong Dewi Renuka
menjejakkan kesakitan pada Jamadagni sang Brahmana

memenangkanmu dari tubuh tuan
lalu ku naiki kuda bawa ragamu
bergaun dewi
sang tuanpun sekarat
lalu kutinggalkan medan

Kudus, 06 Agustus 2019




Komentar