Puisi-puisi Muhammad Asqalani; Tak Ada Lagi Tiada

Artikel Terkait Puisi ,










Tak Ada Lagi Tiada

tidak ada lagi tiada
hanya doa menyorong-nyorong hampa
seperti moncong senjata.
seperti mekar bahaya
kelopaknya darah dan cahaya
langit gugur
segala yang kusiram takabbur

2016




Kepulangan II

marwah rumah
tadah atau jadah?
tentu saja sejadah
lebih tabah daripada tubuh
lebih rubuh daripada ruh

2014


Pemijah Awan

ibuku yang mengaku menawan
melahirkanku serupa bayi awan
putih dan tak tercemar
langit ayah gemar padaku
katanya aku akan layu tanpa ibu
sebab ibu hujan
sementara ayah sekadar muasal gelantungan.
monyetkah aku?
bukan,
sebab kau bayi awan bukan bayi ilmuan
tidurmu tidak di hutan, tapi di mata Tuhan.

2016



Jalan

kaki tak berhati
berjalan berjejalan
menuju kehilangan
pada tapak sendiri
tampak hakkul hakiki

2014


Confession

aku jatuh cinta pada dosa
yang tak sanggup dihapus langit
saat apel begitu saja menggelinding
mengganjal dalam laring.
Anfa,
tahukah kau jantungku lelah luka,
sebelum dicipta Aha!

Januari 2020




Tentang Penulis:



Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran, Paringgonan, 25 Mei 1988. Juara 2 Duta Baca Riau 2018. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris - Universitas Islam Riau (UIR). Mengajar Bahasa Inggris di Smart Fast Education dan Edwar Course & Private serta menjadi mentor Kelas Puisi Online (KPO) di bawah naungan WR Academy. 1 Januari 2019 buku puisinya berjudul "doksologi" memenangkan Sayembara Buku Fiksi, Komunitas Menulis Pontang - Tirtayasa (Komentar).



Buku puisi tunggalnya yaitu: Tangisan Kanal Anak-Anak Nakal (2012), Sajak Sembilu tentang Teh Ribuan Gelas (2012), ABUSIA (2013), doksologi (2014), Anak Luka Susu (2015), Bimbilimbica (2016), Doa Orang Telanjang (2016), MANDELE (2017), Anglocita Nama Cumbu (2018), ULANG DOKON-DOKON NA HUDOKON-DOKONI, PALA DOKONKO NA HUDOKON-DOKONI (2020). Sedang mempersiapkan buku ke, 11, 12 dan 13 nya, masing-masing berjudul; Ungkapan-ungkapan Pendek untuk Kasih Sayang yang Panjang, Surat Kaleng Tersembunyi untuk Kekasih yang Lebih Fantastis dari Dongeng, Mengaku Idris.

Komentar