Artikel Terkait Puisi ,
Pelangi
Tersesat
Aku terlalu
yakin mengenal warna pelangi
dari
beberapa warna yang berbinar di matamu
tanpa
menghiraukan putih dan hitam
dalam
sajian jarak
antara kita
warna
pelangi memang melebur pada senyummu
guratannya
tampak jelas pada kemenangan
adakah
itu sebuah penjajahan?
oh itu hanyalah sekumpulan pelangi
tersesat
sekawanan domba
mencari jalan pulang.
Dari lorong-lorong kaki serigala
mengangkang lebar-lebar
kios-kios wanita rupawan yang
kukenal
oh
aku salah
engkau
adalah serigala itu
aku
hanyalah domba
domba
mencari jalan pulang
Lampung, 2020
Warna
Buta Kita
Di
antara nelayan yang tenggelam,
engkau
adalah aku
yang
terlalu banyak mengkonsusmsi garam
sampai
menjadi lautan
tempat
dari beberapa mereka bergantung
kapal-kapal
yang sibuk mendongak kita
karam
menabrak langit
di
antara bintang, mengambang
mencari
hujan untuk mengais beberapa hidup
supaya
jatuh menjadi ikan
sedang
beberapa mereka jatuh mejadi sampah
lebih
mengambang dari kapal yang karam
mengalir
menjadi darah
yang
menghidupi kota,
lepas
tempat cinta dan rasa karam di sana
engkau
adalah aku
warna
paling buta
yang
dimiliki nelayan
Jakarta, 2020
Semeraut
Rindu November
Semua
orang berbisik tentang Desember pekat
disusul
kata Januari riang
tempat
menghabiskan hari melukis canda tawa
menikmati
senja sendu bulan itu
meski
masih samar di antara November
susunan
meja itu sudah jelas
tertata
rapi di kepala
dengan
secangkir pekat kopi rindu
atas
setumpuk penat yang kelabu
Derai
jarak selalu suram bertamu
memaki
tak jelas
Lekaslah
berlalu bulan kemalang
Aku
lelah terjerat semeraut November
Jakarta, 11 November 2019
Persembahan
Senja bisu
Jelas
sudah
itu
adalah sebait puisi karya Si bisu
terlahir
dari rindu,
hembusan
angin, dedaun rimbun, serta kicau burung bersetubuh
tepat
sesaat sebelum senja bersekutu dengan malam
sebelum
angin kocar-kacir tanpa arah
sebelum
dedaun gugur dengan pasrah
dan
burung-burung memilih lelap melupakan nuansa itu
Jakarta, 01 Desember 2019
Awal
Desember
Awal
desember datang lagi
namun
masih tersimpan rapi sebingkis kata
kala itu
Senin
pertama bulan desember 2014
larut
kubungkus kata maaf
supaya
hadir menjadi obat
walaupun
jelas terlambat
sebab
hatimu terlampau hitam oleh sembilu
sampai
sampai aku ragu
dam
memilih menyembunyikannya hingga kini
Apakah
engkau masih ingat?
engkau
yang dideru kelabu
sedang
hatiku yang susut,
bergelut
dengan rasa bersalah
dalam
Sepanjang
waktu masih menarik untuk
tenggelam
Jakarta, 01 Desember 2019
Nurdin
Hidayat, lahir di Lampung, 12 Juni 2000. Mahasiswa aktif jurusan Hukum Tata
Negara di UIN Syarif Hidayatullah. Aktivitas sehari-hari yaitu kuliah serta
turut aktif dalam dunia kepenulisan. Bergiat di komunitas Competer serta di
sanggar Tonggak. Bukunya yang telah diterbitkan yaitu Setitik Cahaya di Samudera
Kehidupan (2018) dan Cangkang Peradaban (2019) dan beberapa karya lainnya juga
termuat di beberapa buku antologi bersama. Bisa ditemukan di IG @nurdin_hidayat21
Alamat:
Sekretariat HML Tangerang Selatan, Jl Nurul Huda No.44, Kel. Cempaka Putih,
Kec. Ciputat Timur, Kot. Tangerang Selatan, Prov. Banten.
Penulis dapat disapa lewat email : nurdinhidayat12062000@gmail.com


Sajaknya keterlaluan indah. Boleh dijadikan acuan untuk membuat puisi.
BalasHapusBenar sekali, Kak.
HapusNurdin Keren .. semangat
BalasHapusSemangatttt
HapusCacing cacing suci
BalasHapusWkwkwk
HapusApa tuh
Sangat nyastra...
Hapus😍
Hapus