Artikel Terkait Puisi ,
Selamat Pagi,
Mikhaila
Selamat pagi, Mikhaila
Semburat warna emas mengecup keningmu, ketika
makhluk Tuhan bernama matahari telah bergelayut di langitNya. Kita bersiap
bermain hom pim pa dan memunguti buah bidara di pinggir jalan setapak menuju
ladang Bapak. Katamu Jumat adalah hari paling indah. Karena di hari itu kita
bermain sepuasnya tanpa memikirkan hafalan dan PR dari guru kita di sekolah.
Selamat pagi, Mikhaila
Pagi ini adalah hari yang sama, ketika kau
minta untuk kugendong, dan kau kata, suatu saat kita akan ke ladang bersama,
menanam ubi dan kentang. Lalu aku memanggilmu "mama" seperti halnya
orang-orang kota memanggil istri tercintanya. Aku hanya mengiyakan. Dan kau
tersenyum girang.
Mikhaila, ternyata pagi tak mengabulkan doamu.
Dan langit masih memeluk impianmu. Awan belum memasaknya hingga matang,
kemudian melepasnya serupa rinai hujan. Kau panggil papa pada lelaki kota.
Sedang aku memanggil mama padamu, di kenangan sajak yang tak pernah bertemu
matamu.
Selamat pagi, Mikhaila
Aku ingin memarahi Tuhan, menjambaknya hingga
botak. Memukul pahanya hingga berteriak. Karena apa? Ia ciptakan hatiku begitu
kuat. Hingga aku lupa, bahwa sakit menyaksikanmu bergandeng tangan, kukira
hanya adegan anak kecil bermain nikah-nikahan. Dan di jumat depan, kau
beradegan jadi tuan putri di istanaku.
Ah, Mikhaila. Lama-lama aku jadi Pablo Neruda.
Ribuan soneta penuhi kertas-kertas berserak di meja. Lalu aku tertidur
selamanya. Hingga kau mengucapkan selamat jalan, pada "papa" yang
kini telah binasa. Sedang gincumu sudah merah tua. Bukan merah muda.
Madura, 14 Februari 2020
Sebelum Kemarau
Sebelum kemarau, di dadamu sudah kering
kerontang
Hanya hujan dari matamu yang menyiram kenangan
Madura, 10 Desember 2019
Bulan Jatuh Di
Matamu
Malam sunyi,
ketika kuhirup aroma melati
Dan tetiba bulan jatuh, di matamu yang anggun.
Aku kehabisan kata,
ketika dalam matamu kulihat kebun bunga.
Aku kehabisan kata,
ketika dalam matamu kulihat kebun bunga.
Sumberbatu, 21 Februari 2020
Hijau Daun Pohon Bambu
Hijau daun pohon bambu jatuh ke tanah
Mengecup abu yang basah
Tidakkah kita bisa melihat?
Bahwa tak selamanya napas melekat,
meski angka di tangga usiamu baru bisa kita hitung dengan jari tangan dan kaki.
Bahwa tak selamanya napas melekat,
meski angka di tangga usiamu baru bisa kita hitung dengan jari tangan dan kaki.
Madura, 21 Februari 2020
Selamat Jalan
Kenangan
Selamat jalan kenangan, pagi ini telah aku tuntaskan
Perihal resah dan cemas yang berkepanjangan
Selamat jalan kenangan, pergilah kau ke ujung
bumi yang tak akan pernah kutemui, meski itu hanya serupa kabar yang dibawa
burung ke halaman rumahku. Biar kutebang pohon jambu, di mana kau pernah
berbagi manis buahnya denganku. Lalu kubakar kayu-kayunya hingga jadi abu.
Pergilah. Aku telah kalah.
Madura, 21 Februari 2020
Tentang penulis
Wardah Az Zahra, lahir di kota Gerbang Salam Pamekasan
Madura. Ia menamatkan sekolah menengah atasnya di MA Al islamiyah 1 Sumberbatu.
Saat ini menjadi anggota di grup menulis
Competer Indonesia, Kelas Puisi Bekasi Serta menjadi assistant Founder di Asqa Imagination
School. Beberapa karyanya termaktub di beberapa buku antologi nasional di antaranya;
Berdialog Dengan Angin( 2018), JARAK: Jalinan Antara Rasa dan Aksara Kerinduan (2018),
Sajak Berpayung Rindu (2018), Masa Lalu di Depan (2018), Penyair Cantik dengan Karya
Cantik (2019). Juga pernah dimuat di Pos Bali (2018), Buletinkapass.com November 2019, Travesia.com.


Keren ich kak Wardah
BalasHapus