Serigala dari Kaca Jendela Seorang Gadis

Artikel Terkait Cernak ,



Cernak Reno Septia Budi Laksono


Orang-orang mengenakan seragam loreng-loreng
O, Rembulan bercahayakan keemasan
Berilah aku jawaban dari sepanjang kegelapan
Daripada di bunuh oleh pemburu itu!

Sial! Pemburu itu terlalu berani untuk masuk hutan ini." Wajah penuh tatapan api mulai membara di sekujur tubuh. Serigala merasa tidak senang jika melihat keadaan hutan sampai sekarang semakin sakit. 

Terdengar ranting pohon mendayun-dayun. Munculah seekor Burung Hantu yang berdiri di ranting pohon berdaun lebat, di antara ratusan pohon.

Sepanjang malam aku melihat serigala itu resah. Apakah mengenai pemburu yang akhir-akhir ini meresahkan para kaum binatang?” Burung Hantu berbicara sendiri sambil melihat Serigala yang berwajah api dari kejauhan itu, tak selang lama, Burung Hantu menghampiri Serigala dan bertanya mengenai keresahan yang dialami.

“Kamu kenapa saudaraku?” Tanya Burung Hantu.

“Aku benci kepada para pemburu yang membabi buta, pada bangsa perhewanan, khususnya kaumku yang ikut dibasmi.

Oooo... Jadi Begitu?" Tanya Burung hantu.

Benci, dan marah, yang kini menemani keseharian binatang-binatang hutan, kuku-kuku yang tajamnya seperti senar layang-layang sudah muncul, dan serasa ingin merobek-robek pengganggu yang selama ini berada di kawasan Janabijananya.

*


Sementara...

Hari telah berganti. Dari dalam hutan terdapat rumah sederhana yang di dalamnya ditempati oleh seorang perempuan muda. Gadis ini kadang suka mencari makan di sekitar hutan serta belajar mengenal alam. Meskipun orang tuanya membawa banyak persediaan makanan yang didapat seminggu sekali karena sudah menjadi rutinitas mingguan ke pemukiman penduduk khususnya di perkotaan guna berdagang. Orang tuanya berdagang anyaman tikar, wadah dari bambu,  serta pernak-pernik etnik dari biji-bijian yang diincar orang perkotaan. 
Kenapa satu keluarga itu tak beralih meninggalkan hutan dan membaur di pusat peradaban? Orangtua gadis tersebut suka dengan suasana hutan, untuk itulah mengapa mereka membangun rumah di daerah itu. Namun karena kabar menyampaikan pesan tentang keharusan kedua orangtua gadis itu untuk ke kota sejenak, karena padagang yang sudah lama menjadi rekan dagang menginginkan sebuah pertemuan, orang tua gadis itu pergi untuk beberapa saat. Alasan menyatu dengan alam sedari kecil lah yang tak membuat khawatir mereka meninggalkan putri tercinta.

Diarrr!!

Seringkali gadis tersebut mendengar suara tembakan di luar rumahnya dan melihat di dalam kaca jendela terdapat burung-burung lari dari atas pohon ke segala arah seolah-olah menghindari ancaman suara tembakan tersebut. Inilah membuat gadis sangat heran dengan adanya suara tembakan yang sering didengarkannya itu sampai ke ujung petang.

Tembakan
Seribu peluru di sebarkan
Untuk mengenyangkan diri
Pada pemburu 
yang kehilangan akal
Bodoh-bodoh dan terkutuk.

Suara hati seorang gadis dengan hati resah, hal yang sulit ini harus mampu diselesaikan. Ketika hari mulai larut malam, gadis tersebut melakukan ekspedisi agar tahu mengenai apa yang terjadi di dalam hutan.

“Nampaknya aku harus pergi ke hutan, untuk menyelesaikan permasalahan ini. Aku harus menemui binatang di sana.”

Bergegaslah Si gadis menuju hutan, dengan perjalanan malam yang di temani suara angin malam serta rembulan yang memancarkan paras cantiknya, sampai pada pertengahan hutan, gadis tersebut ketemu dengan seekor Rusa.

“Rusa, apakah kamu mengerti siapakah yang membuat onar di hutan selama ini?” Tanya gadis kepada seekor Rusa.

“Seorang pemburu yang berjumlah 10 orang.” Balas Rusa kepada seorang gadis.

Tak selang lama kemudian dari tempat percakapan, munculah seekor serigala dengan raut muka kesal seakan mau menerkam gadis tersebut karena ia kira gadis tersebut satu kelompok sama pemburu binatang.

“Au…k, nekat banget kamu manusia datang ke hutan malam hari.” Ucap serigala.

“Kamu mau membunuh kami?” Tanya Serigala lain.

Ya, kawanan manusia yang membunuh kami, aku kesal dengan manusia."

Muka murka Serigala terus tak terbendung, namun karena dilihat dari raut gadis tetap menunjukan sikap tenang, dan menjawab percakapan serigala itu dengan lembut, pada akhirnya serigala tersebut luluh dengan perkataan gadis, di sinilah mereka menyusun siasat mengenai hutan yang kini mereka tinggali agar aman seperti dahulu, jika binatang atau makhluk yang ada di hutan punah, kondisi ekosistem alam akan goyah dan tak beraturan, hingga memunculkan bencana alam.

Tepat pada titik tengah malam, percakapan tentang merancang siasat tersebut telah selasai, kemudian gadis meninggalkan sekumpulan binatang, lanjut pada keesokan harinya terlihat dari kaca jendela kamar seorang gadis, serigala tersebut terlihat menuruni bukit dan menuju ke rumah gadis tersebut.

“Wahai gadis yang berada di dalam rumah, keluarlah! Kita siap memainkan sebuah petualangan? Ajak Serigala.

“Siap, Kawan! Bukankah ini akan menjadi hari yang menyenangkan hingga malam nanti?” Si gadis balik menimpali. Si Gadis yang kala itu sudah dengan kostum hantu putih berambut panjang dengan riasan menyeramkan dari kosmetik bundanya.

Serigala pun kemudian mengajaknya pergi ke hutan, untuk memperlihatkan tempat yang nantinya dijadikan untuk menjebak para pemburu.

Mereka menuju ke dalam hutan untuk menerapkan siasat yang sudah dirancang. Sesampainya di tengah hutan, tibalah Seekor Elang yang menemui Serigala dan gadis tersebut.



”Eakkk… Hai Serigala dan Gadis hutan, sedang apa kau disini? Apakah menyusun siasat untuk menjebak pemburu yang selama ini menyusahkan kehidupan hutan?” Tanya Elang kepada mereka. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh Serigala mengenai maksud mereka.  Hingga Elang pun ikut bergabung karena sudah mulai gerah juga dengan ulah pemburu.

Setibanya jarak 60 menit, Burung Elang yang memiliki mandat dari si gadis mengantarkan surat pada polisi hutan, berhasil memberikan suratnya, dan polisi hutan itu merespon surat tersebut. Entahlah, sebuah rencana dadakan, keberuntungan bertemu Elang yang saat itu bisa ditugaskan si gadis untuk turun dari bukit.
**


“Srek…srek..srek..” Suara kaki menembus daun kering di tanah terdengar dari ujung selatan hutan, Gadis hutan bersembunyi di belakang pohon yang nantinya pemburu akan diarahkan ke daerah itu dengan seekor rusa.

“Rusa, segeralah kamu menuju ke suara hentakan kaki, kemudian arahkan kesini”, ungkap Serigala. Bergegaslah Rusa untuk menuju suara tersebut kemudian memancing para pemburu agar menuju ke tempat jebakan yang sudah mereka atur.

Nampaknya malam ini kita tidak mendapatkan binatang satu pun, apakah sudah kita basmi semuanya, Gaess?” Ungkap pemburu ke pemburu lainnya.

“Hai pemburu, sini tangkap aku!” Seru Rusa dengan nada keras yang menampakkan dirinya di depan para pemburu dengan tiba-tiba.

“Hai! Itu ada rusa mari kita tangkap!” Aksi kejar-kejaran tak terbendung, dengan rasa senang pemburu itu mengejar rusa tanpa merasakan rasa lelah, suasana cengang telah menyelimuti saat kejadian ini, dan sesampai di lokasi, pemburu tersebut kehilangan jejak rusa dan terhenti di depan pohon besar yang bernama Beringin.

Di sinilah jebakan dimulai, seorang gadis muncul dengan mengenakan gaun putih dan berwajah yang penuh lumuran darah menemui pemburu tersebut, sebelumnya pemburu tersebut sudah ketakutan karena mendengar suara Serigala dan tangisan perempuan yang berasal di balik pohon besar. Munculah Ia. dan membuat kaget Pemburu sehingga lari terpincang-pincang menuju arah barat, yang di setiap arahnya sudah dikasih jebakan oleh Serigala.

“Ha..n..Tu….” Jerit pemburu dan kabur dari tempat.

“Jleb.Suara gerak tubuh mereka yang sudah terjebak di dalam lubang yang sudah dibuat oleh Serigala sejak tadi siang.

“Tolong…” Pemburu meminta tolong, tak dibantu oleh makhluk sekitarnya, bahkan pemburu tersebut dibuat tidak nyaman oleh makhluk hutan, banyak binatang tertawa ngikik melihat tunggang langgang si pemburu karena  di lubang tersebut, muncul seekor ular yang sudah siap di posisi untuk membuat pingsan pemburu tersebut. Entahlah, sepertinya ular yang tanpa dikomando dan tanpa mengetahui rencana gadis serta binatang lain merasa geram juga pada kawanan pemburu. Sebuah keberuntungan? Tentunya, binatang yang tanpa komando sebelumnya pun antusias mengerjai para pemburu.

“Komandaaan, itu... Itu topi saya jatuh. Saya mau balik arah mengambilnya.” Tukas satu pemburu pada pimpinannya.

“Alaaah, mau mati kamu? Biarkan saja topinya hilang.” Balas komandan pemburu.

“Itu beli di luar negeri, itu topi dari kulit harimau. Mahal Komandaaan.”

“Lari saja, nyawa atau topi yang utama?”

Menit telah berlalu, Pemburu itu pingsan karena melihat ular yang berada di lubang tersebut. 
Si pemburu dan kawanannya terperosok ke dalam lubang dan mengerang kesakitan. Hingga datanglah polisi hutan dari lereng.

Si gadis yang telah dengan muka seram bak kuntilanak itu keluar begitu memastikan suasana aman karena pemburu telah diringkus. Namun satu polisi bergidik takut karena mendapati kuntilanak di depannya.

“Kuntilanak, Letnan!”

“Kuntilanak hebat ini namanya. Terima kasih Larry Subroto... Suratmu sudah kubaca. Ayahmu akan kukabari perihal anak gadisnya yang hebat. Tak salah pihak aparat hutan memberi ijin keluarga Subroto untuk membangun rumahnya di sini. Ternyata ada manfaatnya memiliki anak secerdik kamu.

“Berarti bukan Kuntilanak sungguhan ya, Letnaaan?” Polisi yang satu meyakinkan.

“Hahahahahhhhh” Derai tawa sang Letnan.

Dari kejadian ini hutan kembali nyaman dan aman, karena tidak ada pemburu lagi dan sistem pengamanan hutan di perketat oleh pemerintah, serta Gadis hutan tersebut diangkat menjadi kepala polisi hutan oleh pemerintah pusat berkat jasanya tersebut.

Selesai……


Tentang Penulis

Reno Septia Budi Laksono, Founder Keluarga Berkarya Kudus. Mahasiswa tingkat akhir UPGRIS Semarang. 
IG : Reno Al Faruq
FB: Reno Sanjaya

Komentar

Posting Komentar