Artis Baru Bernama Covid-19 Itu Harusnya Tak Memecah Belah

Artikel Terkait Essay ,



Artis baru bernama Covid-19 datang bukan hendak memecah antara yang panik dan yang santai, kan? Netizen +62 sejatinya tidak asyik jika tak ada perdebatan. Maka dari itu, datangnya Covid-19 malah menimbulkan dua blok baru yang lahirkan perang urat syaraf. Antara yang panik dengan ekstra siaga yang lebih, dan yang santai berpasrah pada Illahi dengan masih menjalankan aktifitas tanpa lockdown.

Yang menyikapi dengan sangat khawatir, wajar. Jangan dipersalahkan. Bukankah mereka mengkonsumsi data terpercaya? Bahkan dukungan disiplin ilmu kedokteran juga. Mereka katakan, runtutan dari tawakkal atau berpasrah adalah, didahului dengan upaya-upaya atau siaga diri. Mematuhi aturan lockdown, mengisolasi di rumah saja, membatasi aktifitas sosial di luar. Lalu masihkah diperdebatkan? Mereka yakin bahwa kalimat 'mencegah lebih baik dari mengobati' akan tetap berlaku sepanjang masa. Mau menggugat? Ini
Mufti sekelas Al Azhar Kairo menyarankan agar peribadatan sholat Jum'at diganti Dzuhur juga agar meminimalisir penyebaran. Sama ketika dahulu kala hujan lebat di zaman Rasulullah bisa menjadi rukhsoh sholat jama' taqdim.


Namun... Lagi-lagi dua pendapat adalah lumrah, selayaknya pada pihak yang memilih santai dengan masih beraktifitas, juga jangan digunjingkan. Kenapa? Jangan melihat itu sebuah kesombongan dengan tidak adanya ikhtiar, jangan mengatakan bahwa mereka sombong tidak takut Corona tapi hanya takut Allah, padahal Allah juga bisa membunuh manusia lewat Corona. Nah, masih ada yang mengatakan mereka sombong? Bukankah mengatakan bahwa kita terbebas dari kesombongan, adalah kesombongan yang sesungguhnya. Ini mereka mereferensi juga kisah-kisah zaman dahulu yang bahkan, ada rujukannya dalam kitab karangan ulama dunia lho.

Bahwasanya, pada zaman dahulu, pernah ada wabah. Dalam perjalanan, wabah itu bertemu seorang wali. Sang wali bertanya,

"Hendak kemana?"

"Oleh Allah aku dimintakan ke Damaskus." Si wabah menjawab.

"Berapa lama dan berapa korban?" Sang wali bertanya kembali.

"Selama 2 tahun dengan 1.000 korban."


Dua tahun setelah wabah menjalankan tugasnya, ia bertemu wali ini lagi. Sang wali heran mengapa wabah ini malah membunuh 50.000 orang.

"Dua tahun lalu katanya membunuh orang dengan jumlah 1.000, kenapa yang mati 50.000 orang?"

"Aku memang membunuh 1.000 orang, sisanya 49.000 karena panik." Jawab si wabah. (Kitab Khilyatul Auliya').


Intinya... Covid-19 datang bukan untuk memecah belah antara yang berikhtiar siaga, dan yang santai berpasrah. Covid-19 serupa mahluk Tuhan yang menjalankan titah saja. Selebihnya, jangan karena Covid-19, kita abai pada esensi kebersamaan, berdebat tentang Ubudiyah, berdebat tentang kedangkalan akidah, atau sebagainya. Sensitivitas akan gesekan sebaiknya jangan diperbesarkan. Mau panik dengan segala referensi dan pencegahan agar tidak terjadi hal-hal yang ditakutkan? Silahkan! Sebaliknya, Mau santai memasrahkan diri pada Tuhan dengan tetap beraktifitas menunaikan tanggungjawab pekerjaan demi melanjutkan kehidupan? Ya silahkan juga.  [redaksi: Yani @admin akarrantingdaun]



Komentar