Puisi-puisi Malikha Aw; Pria Batang Batang

Artikel Terkait Puisi ,




Pria Batang Batang

Kembang rambusa lambang sayang
Kau hadiahkan di bawah pohon lontar, di tanah basah milik eyang
Saat aku kau khitbah dengan suara tenang
Beriramakan bulir rintik menjelma hujan

Kau baru saja pulang dari perantauan
Mengukir cita di tanah Malang
“Demi kita di masa depan”
Bisikmu perlahan, membawaku mengawang dan tunjukkan keseriusan dari balik sedotan pemantau masa depan

Tiba waktu itu, kau dan aku menjelma raja dan ratu
Doa penghulu dan kau aku amini dari mulut langgar
Saat ijab qabul suci kau ikrar
Suaramu lantang terdengar
Dada gemetar
Sedang bilur air mata menjadi saksi tersakral
‘Sakinah, Mawaddah wa Rahmah, sayang’
Ucap hujan yang di amini gelegar guntur bersahutan

Sumberbatu, 18-19 Februari 2020


Malya, Warna Matamu Berbahaya


Malya, malam ini matamu berwarna perak menyalak. Padahal tak kudapati bias sang dewi menyapa bibir jendela kamarmu sejak beberapa jam berlalu. Katamu malam ini bulan akan sempurna purnama. Sementara cecak dan kecoak sudah menggelar tikar hendak menyaksikan perbincanganmu bermandi cahaya purnama.

Hujan tak mungkin juga datang malam ini, Malya. Sebab bintang-bintang masih berjaga-jaga di pintu langit terakhir menuju bumi. Dan angin sepoi mulai membelai rambutku yang pirang. Membiarkan bayi-bayi kantuk bergelantungan di bulu-bulu mataku yang keram.

Berapa lama lagi harus menunggu, Malya? Kopi hitam yang belum kau seduh air hangat dari ketel leher angsa warisan eyang seakan ikut keram. Sementara ubi bakar yang kau hidangkan di atas meja makan mulai menggigil gemetaran.

Katamu, kau hendak kenalkan aku dengan seseorang. Berkisah dari mata ke mata hati terdalam, meski tak melulu soal drama Korea yang biasa kita perbincangkan.

Malya, aku mulai paham arah yang hendak kau tunjukkan. Bougenville di luar jendala kamarmu berkhianat ke daun gendang. Ia bisik-bisik pelan, menyebabkan daun-daun kenangan tertiba berjatuhan di halaman kosong tanpa temaram.

Benarkah kau hendak menduakan kakakmu, Malya? Bukankah sudah ku bilang dia tak tergantikan? Sedang aroma tanah basah dari peristirahatannya masih kuhidu hingga di sarung bantalku yang ungu. Ah, Malya, ternyata warna matamu berbahaya.

Sumberbatu, 25 Februari 2020


Ranjang Karat

Siapa sangka
Lebaran terhalang gulana
Kuyup air mata
Haruskah luka tetap menganga?
Sedang mereka bersenandung ria, di hari fitrihku yang tertawan algojo rasa

Terhitung waktu
Ku tunggu cemburu, memudar tersapu angin laut
Tapi rasamu masih saja berdebu
Mengapa tak kunjung ganti baju baru?
Aku lelah mengadu haru

Mungkinkah hatiku yang terlalu rapuh!
Hinga rasa yang tinggal separuh
Ku anggap tanggguh Bertempur melawan debur ombak bergemuruh

Sudahlah, tuan
Biarkan hati rebah di pembaringannya yang tak lagi perawan
Penat berkawan keadaan
Diatas hatiku yang masih tertawan, dalam ramai kumandang takbir lebaran
Di ranjang karat tak bertuan

Batang-Batang, 15 Mei 2018



Makhluk Bumi

Di gigil arunika inikah swastamita hendak berpesta
Sedang kejora lamat lamat lengser ke seberang beranda
Mengabsen bintangbintang yang keluyuran sejak kejora memutuskan untuk tak pulang

Daundaun tenang
Lamatlamat terdengar suara sansai
“kemanakah hendak bertualang, sayang?”
Tak ada jawaban
-Arèk Lancor- pun masih lengang
Sedang sekawanan katak got mulai bergurindam saat detak rintik singgah di botolbotol bekas berserakan, penyumbat drainase plengsengan

Sepoi malam seakan khusuk mengiringi tilawah dari Masjid ‘Assyuhadak’ yang agung
Bertasbih
Tertatih mengawal subuh
Mengamini tiap langkah makhluk bumi yang kudus
Menuju pesarènan firdaus
Yang durjanapun mampus
Dengan cara Tuhan yang mangkus

Blumbungan, 17 Februari 2020


Teluk Rindu
# Mengenang Rumi

Membaca senyummu menggetarkan akarrantingdaun di degub jantungku
Menghuni sepetak gubuk bambu mungil
Dibawah rindang damar kenangan masa kecil

Dan gemuruh ruh yang meletup letup ini kunamai teluk rindu, Ru
Tempat singgahnya kecut manis cerita merah jambu kala itu
Tercipta dari denyut yang paling sederhana menuju degup jantung paling gila

Masihkah kau tidurkan asmaraloka di singgasana peraknya yang berkaca, Ru?
Melipat sederet kenangan yang nakal dan manja
Di teluk rindu kita
Tempat bersekutunya mata, kau aku kita bernostalgia

Sumberbatu, 15 Februari 2020




Tentang Penulis:
Malikha Aw, lahir dan besar di Blumbungan Pamekasan. Pecinta aksara dan pena. Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di MA AL-ISLAMIYAH 1 Sumberbatu. Saat ini selain menyulam ia juga aktif di grup kepenulisan online, salah satunya di Competer Madura. Beberapa karyanya tercatat dalam media online dan antologi bersama, diantaranya: Loppah (Pustaka Tunggal Publisher, 2018), Aksara Langit (Jendela Sastra Indonesia, 2018), Hujan (Sastra Santri Indonesia, 2018), Benang Merah (Komonitas Sastra Indonesia, 2018), dan Gerimis (Sastra Harasi, 2018). Bisa di sapa di akun (FB) Malikha Aw, email: malikhaawaw67496@gmail.com dan WA: 082331337429.
















Komentar